Inovasi Teknologi

Hipa 6 Jete

Hipa 6 Jete Rentan terhadap hama wereng, batang coklat, biotipe 2. Agak rentan terhadap penyakit hawar daun, bakteri strain serta rentan terhadap virus tungro.

SDM Profesional

Prof. (Riset). Dr. Ir. Achmad Suryana, MS

Prof. (Riset). Dr. Ir. Achmad Suryana, MS Prof. (Riset). Dr. Ir. Achmad Suryana, MS adalah peneliti utama dalam bidang Sosial Ekonomi Pertanian, saat ini bekerja pada kelompok peneliti di Pusat Sosial ekonomi dan Kebijakan Pertanian.

Achmad Suryana telah melahirkan inovasi di bidang manajemen penelitian, diantaranya pada saat menjadi Kepala Pusat Sosial Ekonomi Pertanian ia mengintroduksi kegiatan Analisis Kebijakan dalam rancangan program penelitian. Kegiatan ini memberikan keleluasaan kepada pimpinan unit kerja untuk dapat dengan segera merumuskan alternatif kebijakan dalam bentuk Policy Brief dalam aspek kebijakan pembangunan pertanian dan pedesaan, baik sebagai respon atas permintaan/arahan pimpinan maupun antisipasi terhadap permasalahan yang kemungkinan muncul kemudian. Pada saat menjabat sebagai Kepala Badan Litbang Pertanian, Suryana memperkenalkan program PRIMATANI, suatau pendekatan praktis untuk mempercepat diseminasi teknologi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian kepada para pengguna ataupun petani. Penugasan peneliti dan penyuluh untuk bekerja secara sinergis di lapangan (dan tinggal) bersama petani, merupakan salah satu ciri utamanya.

Sebagai peneliti, Achmad Suryana telah menulis lebih dari 100 artikel ilmiah ataupun semi ilmiah, menjadi dewan redaksi tiga majalah ilmiah, penyunting 16 buku, dan menulis sebuah buku tentang ketahanan pangan.

Suryana mengawali pendidikan Strata 1 di Institut Pertaninan Bogor (IPB) dengan keahlian Sosial Ekonomi Pertanian, selesai tahun 1978 (ir), S2 (MS) di IPB dengan keahlian Ekonomi Pertanian tahun 1980, dan S3 (Ph.D) di North Carolina State University (NCSU), Raleigh, North Carolina, Amerika Serikat dengan keahlian Ekonomi tahun 1986.

Selain sebagai peneliti, Suryana pernah menduduki jabatan struktural di Kementerian Pertanian, antara lain ; Kepala Pusat Pengembangan Investasi dan AMDAL, Badan Agribisnis (1994 – 1995) oleh Menteri Pertanian Syarifuddin Baharsyah, Kepala Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian (1995 – 1998), dan Kepala Biro Perencanaan (1998 – 2000). Suryana mulai dipercaya sebagai pejabat eselon I yaitu sebagai Kepala Badan Urusan Ketahanan Pangan (2000 – 2001) pada era Menteri Pertanian Muhammad Prakosa. Setelah itu berlanjut sebagai Kepala Badan Bimbingan Massal Ketahanan Pangan (2001 – 2004), Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2004 – 2008), Direktur Jenderal Tanaman Pangan ad interim (2005 – 2006) dan Kepala Badan Ketahanan Pangan (2008 – 2011).

Di bidang kepakarannya, Suryana aktif sebagai anggota Pengurus Pusat PERHEPI (Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia) pada empat kepengurusan dari tahun 1989 sampai 2003, Pengurus Pusat PERGIZI Pangan (2001 – 2003), Anggota Dewan Riset Nasional (2005 – 2008), dan Wakil Ketua Komisi Bioetika Nasional (2005 – 2008). Di kancah internasional, ia menjadi Anggota BOT-IRRI (Board of Trustees - International Rice Research Institute) untuk dua periode yaitu dari tahun 2008 – 2010 dan 2011 – 2013.

Jenjang jabatan Ahli Peneliti Utama diperoleh pada bulan Maret 1997. Pada bulan Agustus 2007 ia dikukuhkan sebagai Profesor Riset dengan judul orasi “Menelisik Ketahanan Pangan, Kebijakan Pangan dan Swasembada Beras”.

Penghargaan yang pernah diterima oleh Achmad Suryana adalah; Satyalancana Wira Karya (1997), Satyalancana Pembangunan (1999), Satyalancana Karya Satya X Tahun (1996), XX Tahun (2003), dan Satyalancana Karya Satya XXX Tahun (2009).

Achmad Suryana, Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Jl. A. Yani No. 70 Bogor, Telp. 0251 8325177, Faksimile 0251 8314496, Email: achsuryana@gmail.com

Berita

  • Riset yang Berorientasi Output

    16 Jan

    raker bogor 16/01/2018 Dr. Muhammad Syakir Kepala Badan Litbang Pertanian dalam membuka acara Konsolidasi Manajemen Pelaksanaan Kegiatan Tahun 2018 (16/01/2018) mengatakan bahwa kebijakan pembangunan pertanian jangka menengah lima tahun ini, diarahkan untuk menjamin ketahanan pangan dan energi nasional. Dalam mewujudkan swasembada pangan, salah satu program terobosan yang sedang dilakukan Kementan adalah UPSUS peningkatan produksi padi, jagung, kedelai, daging, gula, cabai dan bawang merah. (berita lengkap)

  • Bujangseta, Buahkan Jeruk Berjenjang Sepanjang Tahun

    16 Jan

    bujangseta Teknologi yang mampu memecahkan solusi bagi masalah petani dalam membudidayakan jeruk adalah Teknologi Pembuahan Jeruk Berjenjang Sepanjang Tahun yang dikenal dengan Bujangseta. Bujangseta diharapkan mampu mengatasi permasalahan petani, konsep dari bujangseta adalah produksi jeruk yang bisa berbuah sepanjang tahun (off season) dan menghasilkan buah bermutu premium seragam, citarasa sesuai pasar, kulit buah mulus dengan harga memadai. (berita lengkap)

  • Terus Garap Potensi untuk Kesejahteraan Petani

    15 Jan

    JAKARTA – Dalam bidang pertanian, Indonesia dikenal mempunyai potensi yang besar. Dengan adanya teknologi, lahan sub optimal seperti lahan kering ataupun lahan rawa berpeluang untuk menjadi produktif dan bisa memberi kontribusi dalam penyediaan pangan masyarakat. (berita lengkap)

  • Grobogan Pertama Kali Panen Padi di Bulan Januari

    12 Jan

    GROBOGAN – Wilayah Jawa Tengah seolah tak berhenti berproduksi. Kali ini giliran Desa Ngelok, Kecamatan Penawangan, Kabupaten Grobogan, Kamis (11/1/2018) juga terjadi panen padi. Panen yang dihadiri langsung oleh Kepala Balitbangtan Dr. Muhammad Syakir ini dilakukan diatas hamparan seluas 492 Ha yang sebagian besarnya menggunakan varietas Ciherang. (berita lengkap)

  • Padi Lahan Kering Dataran Tinggi

    11 Jan

    luhur 1 dan luhur 2 Lahan kering yang dimanfaatkan untuk produksi padi di Indonesia tersebar di seluruh provinsi dan umumnya merupakan lahan-lahan marginal. Padi lahan kering atau padi gogo bisa dibudidayakan di dataran rendah sampai dataran tinggi. Diperkirakan luas lahan kering dataran tinggi yang potensial untuk pengembangan tanaman pangan termasuk padi mencapai 2,07 juta Ha. (berita lengkap)

  • Pengembangan Teknologi Proliga Bawang Merah Mendukung Ketersediaan Bawang Merah Nasional

    10 Jan

    Prosduksi Bawang Merah benih TSS Bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki peranan penting dalam menentukan kondisi perekonomian nasional Indonesia. Komoditas ini memiliki peran dalam menyumbangkan angka inflasi terutama pada saat produksinya menurun di musim-musim tertentu. Naiknya bawang merah akan juga membawa dampak pada benih bawang merah, karena selama ini belum ada pemisahan yang jelas antara usaha bawang merah konsumsi dan benih. (berita lengkap)

Berita lainnya »