Inovasi Teknologi

Inpari 13

Inpari 13 Umur tanaman 103 hari. Potensi hasil 8,80 ton/ha. Tekstur nasi Pulen. Tahan terhadap hama Wereng Batang Coklat Biotipe 1,2 dan 3. Agak rentan terhadap penyakit Hawar Daun Bakteri strain III, IV dan VIII, tahan terhadap penyakit blas ras 033 dan agak tahan terhadap ras 133, 073 dan 173. Cocok ditanam di ekosistem sawah tadah hujan dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpl

SDM Profesional

Prof. (Riset). Dr. Ir. Achmad Suryana, MS

Prof. (Riset). Dr. Ir. Achmad Suryana, MS Prof. (Riset). Dr. Ir. Achmad Suryana, MS adalah peneliti utama dalam bidang Sosial Ekonomi Pertanian, saat ini bekerja pada kelompok peneliti di Pusat Sosial ekonomi dan Kebijakan Pertanian.

Achmad Suryana telah melahirkan inovasi di bidang manajemen penelitian, diantaranya pada saat menjadi Kepala Pusat Sosial Ekonomi Pertanian ia mengintroduksi kegiatan Analisis Kebijakan dalam rancangan program penelitian. Kegiatan ini memberikan keleluasaan kepada pimpinan unit kerja untuk dapat dengan segera merumuskan alternatif kebijakan dalam bentuk Policy Brief dalam aspek kebijakan pembangunan pertanian dan pedesaan, baik sebagai respon atas permintaan/arahan pimpinan maupun antisipasi terhadap permasalahan yang kemungkinan muncul kemudian. Pada saat menjabat sebagai Kepala Badan Litbang Pertanian, Suryana memperkenalkan program PRIMATANI, suatau pendekatan praktis untuk mempercepat diseminasi teknologi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian kepada para pengguna ataupun petani. Penugasan peneliti dan penyuluh untuk bekerja secara sinergis di lapangan (dan tinggal) bersama petani, merupakan salah satu ciri utamanya.

Sebagai peneliti, Achmad Suryana telah menulis lebih dari 100 artikel ilmiah ataupun semi ilmiah, menjadi dewan redaksi tiga majalah ilmiah, penyunting 16 buku, dan menulis sebuah buku tentang ketahanan pangan.

Suryana mengawali pendidikan Strata 1 di Institut Pertaninan Bogor (IPB) dengan keahlian Sosial Ekonomi Pertanian, selesai tahun 1978 (ir), S2 (MS) di IPB dengan keahlian Ekonomi Pertanian tahun 1980, dan S3 (Ph.D) di North Carolina State University (NCSU), Raleigh, North Carolina, Amerika Serikat dengan keahlian Ekonomi tahun 1986.

Selain sebagai peneliti, Suryana pernah menduduki jabatan struktural di Kementerian Pertanian, antara lain ; Kepala Pusat Pengembangan Investasi dan AMDAL, Badan Agribisnis (1994 – 1995) oleh Menteri Pertanian Syarifuddin Baharsyah, Kepala Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian (1995 – 1998), dan Kepala Biro Perencanaan (1998 – 2000). Suryana mulai dipercaya sebagai pejabat eselon I yaitu sebagai Kepala Badan Urusan Ketahanan Pangan (2000 – 2001) pada era Menteri Pertanian Muhammad Prakosa. Setelah itu berlanjut sebagai Kepala Badan Bimbingan Massal Ketahanan Pangan (2001 – 2004), Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2004 – 2008), Direktur Jenderal Tanaman Pangan ad interim (2005 – 2006) dan Kepala Badan Ketahanan Pangan (2008 – 2011).

Di bidang kepakarannya, Suryana aktif sebagai anggota Pengurus Pusat PERHEPI (Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia) pada empat kepengurusan dari tahun 1989 sampai 2003, Pengurus Pusat PERGIZI Pangan (2001 – 2003), Anggota Dewan Riset Nasional (2005 – 2008), dan Wakil Ketua Komisi Bioetika Nasional (2005 – 2008). Di kancah internasional, ia menjadi Anggota BOT-IRRI (Board of Trustees - International Rice Research Institute) untuk dua periode yaitu dari tahun 2008 – 2010 dan 2011 – 2013.

Jenjang jabatan Ahli Peneliti Utama diperoleh pada bulan Maret 1997. Pada bulan Agustus 2007 ia dikukuhkan sebagai Profesor Riset dengan judul orasi “Menelisik Ketahanan Pangan, Kebijakan Pangan dan Swasembada Beras”.

Penghargaan yang pernah diterima oleh Achmad Suryana adalah; Satyalancana Wira Karya (1997), Satyalancana Pembangunan (1999), Satyalancana Karya Satya X Tahun (1996), XX Tahun (2003), dan Satyalancana Karya Satya XXX Tahun (2009).

Achmad Suryana, Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Jl. A. Yani No. 70 Bogor, Telp. 0251 8325177, Faksimile 0251 8314496, Email: achsuryana@gmail.com

Berita

  • Persingkat Fermentasi Biji Kakao Basah dengan Rhizopus sp

    23 Sep

    FermentasiKakao Salah satu upaya untuk mempercepat proses penguraian gula pada pulpa biji kakao pada proses fermentasi dapat dilakukan dengan menambahan mikroba yang dapat membantu percepatan penguraian gula pada pulpa, salah satunya Rhizopus sp. (berita lengkap)

  • Mewujudkan Kawasan Florikultura Berbasis Inovasi di Sukabumi

    22 Sep

    Inovasi hortikultura memberikan hasil nyata kepada para petani di kabupaten Sukabumi, khususnya petani Krisan di desa Pasir Halang kecamatan Sukaraja. Hal ini ditunjukkan dengan kegiatan displai varietas Krisan berbasis inovasi serta florikultura yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Rabu (21/9/2016). (berita lengkap)

  • Mie Non Terigu, Sehat dan Bermanfaat

    22 Sep

    Mie_pasca_2016 Indonesia menjadi negara terbanyak kedua pengkonsumsi mie setelah Tiongkok. Berdasarkan data 2015, tiga negara dengan tingkat konsumsi mie instan tertinggi secara berturut-turut yaitu Tiongkok, Indonesia, dan Jepang. Data Asosiasi Mie instan Dunia (WINA) menunjukkan persentase konsumsi mie instan Indonesia dibandingkan dengan dunia mencapai kira-kira 13,5 persen atau 13,2 Milyar bungkus per tahun. (berita lengkap)

  • Konsumsi Gandum di Indonesia Terus Meningkat

    21 Sep

    Tanaman Gandum Gandum merupakan bahan pangan sereal yang jumlahnya terbesar dalam penyediaan pangan pokok warga dunia. Kelebihan gandum dibanding sereal lainnya sebagai bahan pangan adalah dapat diolah menjadi banyak jenis makanan yang lebih tahan simpan dibandingkan dengan pangan dari beras. (berita lengkap)

  • Isi Amanah dengan Karya Terbaik

    20 Sep

    Pelantikan 20 September JAKARTA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kembali melantik pejabat tinggi madya dan pratama di lingkup Kementerian Pertanian. Selasa (20/9/2016), Mentan melantik 2 pejabat Eselon I dan 6 pejabat Eselon II untuk menggantikan pejabat sebelumnya yang berpindah tugas ataupun telah berakhir masa jabatannya. (berita lengkap)

  • Prima dan Rabani Agrihorti, Cabai Rawit Unggulan Balitbangtan

    20 Sep

    Cabai rawit merupakan salah satu komoditas pilihan untuk usaha tani komersial. Posisinya semakin penting dalam konsumsi masyarakat di Indonesia yaitu sebagai sayuran atau olahan bumbu masakan. Karenanya, cabai rawit memiliki peluang pasar yang semakin luas, baik untuk memenuhi permintaan konsumsi rumah tangga maupun untuk keperluan industri dalam negeri. (berita lengkap)

Berita lainnya »