Inovasi Teknologi

Hipa 5 Ceva

Hipa 5 Ceva Tahan terhadap wereng coklat biotipe 2. Agak tahan terhadap hawar daun bakteri strain IV dan VIII. Agak tahan terhadap penyakit tunggro. Tidak ditanam pada daerah endemik OPT.

SDM Profesional

Prof.(Riset) Dr. Ir I Wayan Rusastra, M.S.

Prof.(Riset) Dr. Ir I Wayan Rusastra, M.S. Prof.(Riset) Dr. Ir I Wayan Rusastra, M.S. adalah Peneliti Utama dibidang Ekonomi Pertanian, saat ini bekerja pada kelompok peneliti di Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.

Selama berkarir sebagai peneliti, Wayan Rusastra telah menghasilkan Karya tulis ilmiah yang diterbitkan lebih dari 100 tulisan, 30 persen diantaranya dalam bahasa Inggris. Dalam kurun waktu tahun 2006 – 2010 Wayan Rusastra telah meresensi tidak kurang dari 10 buku terkait dengan kemiskinan yang diterbitkan oleh lembaga internasional.

Wayan menyelesaikan pendidikan S1 (Sarjana Peternakan) dengan Predikat Penghargaan diperoleh tahun 1978 di FKHPUNUD, Denpasar. Pada tahun 1983 menyelesaikan program Pascasarjana (S2) di IPB dengan keahlian Ekonomi Pertanian. Pendidikan S3 (Ph.D) bidang Agricultural Economics diraih pada tahun 1995 dari Universitas Filipina di Los Banos (UPLB). Sejak 1979.

Selain sebagai peneliti, Wayan pernah menduduki jabatan struktural sebagai Kepala Bidang Publikasi dan Kerjasama Penelitian (1999 – 2001) di PSEKP, dan diperbantukan paruh waktu sebagai Kepala Program Penelitian dan Pengembangan/R&D Programme Leader (2006 – 2008) pada Pusat Pengentasan Kemiskinan Asia- Pasific Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCAP-CAPSA) di Bogor. Sejak tahun 2010 mendapat kepercayaan sebagai Sekretaris Kelompok Kerja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Pusat di Jakarta. Kehormatan sebagai Tim Penilai Peneliti Pusat di LIPI (TP3-LIPI) diterimanya sejak tahun 2011.

Pengabdiannya dalam pengembangan ilmu pengetahuan bidang agroekonomi dan kebijakan pertanian mencakup aspek: (i) Editor jurnal ilmiah di Fapet-IPB, Faperta-Unud, BB Riset Sosek Kelautan dan Perikanan, PSEKP, dan PUSTAKA Badan Litbang Pertanian; (iii) Penyunting 20 buku dan prosiding (1997 – 2010) di PSEKP, Puslitbang Peternakan, Puris Perikanan Budidaya, Perhepi Pusat, UNESCAP-CAPSA, ACIAR, dan APEC; (iv)Meresensi buku dan menulis artikel populer di Majalah Forum Ekonomi, Poultry Indonesia, dan CAPSA Flash tidak kurang dari 30 tulisan secara selektif, dalam periode 1986 – 2010; dan (v) Terlibat dalam Tim Teknis terkait dengan perencanaan penelitian, evaluasi proposal, monev kegiatan penelitian, dan evaluasi laporan penelitian di PSEKP, Puslitbang Tanaman Pangan, LRPI, Badan Litbang Pertanian, dan BB Riset Sosek Kelautan dan Perikanan.

Wayan mencapai jenjang Ahli Peneliti Utama (APU) bidang Agroekonomi diraih pada tahun 2001, dan dikukuhkan sebagai Profesor Riset Agroekonomi dan Kebijakan Pertanian, Kementerian Pertanian 30 Desember 2010 dengan judul orasi “Reorientasi Paradigma dan Strategi Pengentasan Kemiskinan dalam Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi Global”.

Penghargaan yang pernah diterima Wayan Rusastra adalah: (i); Ahli Peneliti Utama (APU) Berprestasi dari Menteri Pertanian RI, pada 20 Mei 2002; (ii) Satya Lencana Karya Satya 10 Tahun, pada tahun 1998 (Kepres RI No.070/TK/1998) (iii) Satya Lencana Karya Satya 20 Tahun, pada tahun 2004 (Kepres RI No.020/TK/Tahun2004).

I Wayan Rusastra, Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSE KP), Jl. Jend. A. Yani No. 70 Bogor, Tlp. 0251 8325177, Faksimili 0251 8314496 e-mail : wrusastra@yahoo.com

Berita

  • Hama Kutu Putih pada Ubi Kayu

    26 Sep

    Hama Kutu Putih Kutu putih merupakan hama yang bersifat partenogenetik telitoki, yaitu semua keturunan yang dihasilkan adalah betina, sehingga setiap kutu mampu manghasilkan keturunan. Pada kondisi optimal, satu betina mampu menghasilkan 200−600 butir telur. (berita lengkap)

  • Tampilkan Teknologi Spesifik Lokasi, Balitbangtan Raih Juara 3 KTNA Expo

    25 Sep

    Juara 3 KTNA Expo YOGYAKARTA – Balitbangtan kembali meraih prestasi dalam bidang pameran dan diseminasi dengan diraihnya juara 3 stand terbaik dalam KTNA Expo yang digelar di Jogja Expo Center, 22-24 September 2017. Penghargaan diserahkan oleh perwakilan pengurus Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Pusat kepada BPTP Yogyakarta, Minggu (24/09/2017) saat penutupan acara. (berita lengkap)

  • Teknologi Ubah Likotuden Menjadi Kampung Sorgum

    25 Sep

    Bimtek Sorgum Likotuden, adalah sebuah dusun di Desa Kawalelo, Larantuka, Flores Timur, NTT. Dusun ini kini semakin terkenal tidak saja Karena keindahan alamnya tetapi juga karena tanaman sorgum (Sorghum spp). Berkat keuletan Maria Loretha pimpinan Yayasan Pembangunan Sosial Ekonomi (Yapense) yang bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Flores Timur yang didukung oleh Model Bioindustri berbasis sorgum yang merupakan dukungan inovasi Badan Litbang Pertanian, menjadikan Likotuden sebagai bagian dari sentra produksi sorgum Indonesia bahkan dunia. Likotuden yang dulunya gersang, karena tanahnya yang kering dan berbatu, kini menghijau dengan suburnya pertanaman sorgum di daerah tersebut. (berita lengkap)

  • Rice Transplanter Jajar Mampu Mengatasi Kelangkaan Tenaga Kerja Tanam

    22 Sep

    rice transplanter jajar legowo prototipe II Salah satu strategi untuk mengatasi ancaman kelangkaan tenaga kerja di bidang pertanian adalah dengan penerapan mekanisasi pertanian, salah satunya mesin tanam bibit padi rice transplanter jajar legowo prototipe II. Penerapan alat dan mesin pertanian (Alsintan) tersebut diperlukan untuk meningkatkan produktivitas lahan dan tenaga kerja, mempercepat dan mengefisiensikan proses, dan sekaligus menekan biaya produksi.

    Keunggulan mesin tanam bibit padi rice transplanter jajar legowo prototipe II ini adalah manuverability (kemudahan operasional), mampu menggantikan 20 tenaga kerja tanam/ha, kapasitas lapang 5-6 jam/ha sehingga mampu menurunkan kebutuhan tenaga kerja dan biaya tanam sekaligus mempercepat waktu tanam. Teknologi ini dapat diterapkan dengan baik pada kondisi lahan dengan pengolahan tanah sempurna, memiliki kedalaman kaki (foot sinkage) 400-600 mm, serta tinggi genangan air 30-100 mm. (berita lengkap)

  • Jarak Tanam Menentukan Jumlah Populasi

    21 Sep

    jaraktanam-berita Jarak tanam yang menentukan populasi tanaman per satuan luas bervariasi antarpetani dan antarlokasi. Hal ini dapat menyebabkan dugaan produktivitas padi per satuan luas menjadi tidak akurat. Kesalahan dalam pendugaan hasil padi per satuan luas berdampak terhadap kesalahan data produksi nasional. Oleh karena itu, diperlukan standarisasi ubinan, pengukuran populasi tanaman (jumlah rumpun) per satuan luas, dan konversi gabah hasil dari ubinan ke hektar berdasarkan jarak tanam padi di lapangan. Produksi padi ditentukan oleh berbagai aspek, termasuk jarak tanam yang menentukan populasi tanaman di lapangan. Jarak tanam dan populasi tanaman mempengaruhi (1) penangkapan radiasi surya oleh individu tanaman, terutama daun untuk fotosintesis, (2) efektivitas penyerapan hara oleh akar tanaman, (3) kebutuhan air tanaman, (4) sirkulasi udara terutama CO2 untuk fotosintesis dan O2 untuk hasil fotosintesis, (5) ketersediaan ruang yang menentukan populasi gulma, dan (6) iklim mikro (kelembaban dan suhu udara) di bawah kanopi, yang juga berpengaruh terhadap perkembangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Keenam faktor tersebut berpengaruh terhadap kualitas pertumbuhan individu rumpun tanaman padi. (berita lengkap)

  • Kit Deteksi Cepat untuk Penyakit CVPD tanaman Jeruk

    20 Sep

    kit cvpd dePAT-CVPD adalah perangkat kit deteksi cepat penyakit CVPD, salah satu teknologi inovatif hasil penelitian Badan Litbang pertanian sebagai solusi alternative dalam system deteksi penyakit CVPD tanaman jeruk. Kit deteksi ini dikembangkan dengan platform Loop-mediated Isothermal Amplification (LAMP), suatu teknik amplikasi DNA secara isothermal yang diintroduksikan oleh Notomi pada tahun 2000 (berita lengkap)

Berita lainnya »