Tahukah Anda?

Tanaman Babadotan Bisa untuk Penurun Emisi

Metana merupakan salah satu jenis penyebab pemanasan global emisi gas rumah kaca (GRK). Gas ini lebih dianggap sebagai polutan daripada sumber energi yang berguna. Gas metana pada kadar tinggi dapat mengurangi kadar oksigen pada atmosfer bumi. Gas metana dapat menyebabkan penurunan oksigen sampai sekitar 19,5%. Pada kadar yang lebih tinggi, gas metana dapat menyebabkan kebakaran dan ledakan apabila bercampur dengan udara.

Sektor pertanian adalah salah satu penyumbang gas metana. Salah satunya berasal dari budidaya tanaman padi sawah adalah gas metana (CH4), karbondioksida (CO2), dan dinitrogen oksida (N2O). Konsentrasi GRK yang berlebihan menyebabkan pemanasan global, bahkan N2O mempunyai potensi pemanasan global 298 kali lipat lebih besar dari CO2 dan memiliki masa tinggal selama 150 tahun di atmosfer. Emisi N2O terbesar berasal dari ketidakefektifan pemupukan N.  

Padahal, efektivitas pemupukan N dalam bentuk urea pada lahan sawah saat ini masih tergolong rendah yaitu sekitar 46% akibat hilangnya N melalui pencucian, volatilisasi amonia, denitrifikasi, dan limpasan permukaan. Penambahan bahan penghambat nitrikasi dapat menurunkan emisi GRK.

Menyadari hal ini, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah menghasilkan inovasi teknologi dari ekstrak tanaman babandotan yang mampu mengurangi emisi GRK sebesar 33,8% dan meningkatkan efisiensi pemupukan N. Aplikasi ekstrak babadotan adalah dengan menaburkannya pada permukaan lahan sawah sebanyak 10-20 kg/ ha bersamaan dengan waktu aplikasi pupuk N.  Selain itu juga tanaman babadotan adalah salah satu tumbuhan hijau yang bisa digunakan sebagai pestisida dan antiseptik.

Sumber: BPATP