Berita » Musim Kemarau, Tanam Jagung Saja

(adm/24 Apr 2014)

Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitsereal) bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan (BPTP Sulsel) melaksanakan demfarm untuk menunjukkan kepada petani tentang nilai kompetitif jagung yang lebih tinggi daripada padi apabila diusahakan pada musim kemarau.

Varietas yang diujikan adalah jagung hibrida Bima 19 URI, Pioneer 22 dan NK33. Hibrida Bima-19 URI mempunyai potensi hasil tinggi, 10,6-12,5 t/ha,  tahan terhadap penyakit bulai, toleran penyakit karat daun dan bercak daun. Bima 19 URI juga toleran kekeringan, tahan rebah akar/batang serta stay green. Dosis pupuk yang digunakan pada pertanaman jagung adalah Urea 250kg/ha, Phonska 350kg/ha, dan ZA 50-100 kg/ha.

Tanaman padi dan jagung hibrida disandingkan sehingga petani dapat membandingkan secara langsung keunggulan dari masing-masing komoditas. Setelah masuk fase generatif, padi nampak mulai kerdil akibat kekurangan air sementara jagung yang diairi setiap dua minggu memiliki penampilan fenotifik yang sangat baik.

Melihat penampilan fisik tanaman, petani mulai menyadari bahwa menanam jagung hibrida di lahan sawah tadah hujan pada musim kemarau dengan menerapkan paket teknologi budidaya secara benar akan lebih menguntungkan daripada padi.

Setelah memasuki masa panen dilakukan analisis untung-rugi bercocok tanam padi dengan jagung. Secara umum padi masih mampu menghasilkan 3-4 t/ha gabah kering panen dengan harga jual Rp3.500/kg, diperoleh harga kotor sebesar Rp 14.000.000. Setelah dikurangi dengan biaya sarana produksi yang berjumlah Rp 5.000.000/ha, maka diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp.9.000.000.

Sementara itu jagung Bima 19 URI mampu menghasilkan 8,5t/ha pipilan kering. Dengan asumsi harga jual Rp2.700/kg maka nilai jual yang diperoleh sebesar Rp 22.950.000. Setelah dikurangi dengan biaya sarana produksi sebesar Rp 6.000.000, maka keuntungan bersih yang diperoleh mencapai Rp 16.950.000 atau hampir dua kali lipat dibandingkan padi. Varietas Pioneer 22 dan NK 33 mampu menghasilkan keuntungan bersih masing-masing Rp 16.005.000 dan Rp 16.275.000.

Dengan diseminasi yang bersifat partisipatif, diharapkan dapat merubah mind set petani tentant pentingnya kesesuaian antara musim dengan pola tanam. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) juga telah merilis KATAM atau Kalender Tanam untuk membantu petani menentukan pola tanam yang sesuai dengan ketersediaan sumberdaya.

Sumber dan informasi lebih lanjut : Balai Penelitian Tanaman Serealia