Berita » Pengendalian Hama Thrips pada Kacang Hijau

(tan/12 Sep 2017)

Salah satu musuh utama tanaman kacang hijau pada musim kemarau adalah hama Thrips (MegaluroThrips usitatus). Kehilangan hasil kacang hijau akibat serangan Thrips berkisar antara 12-64 % dan faktor lain yang mempengaruhi adalah varietas, umur tanaman, dan musim.

Serangan Thrips pada awal pertumbuhan vegetatif dicirikan dengan gejala keriting pada daun pucuk, sehingga tanaman menjadi kerdil. Gejala serangan pada fase berbunga mengakibatkan rontoknya bunga dan polong tidak terbentuk, sehingga mengurangi hasil kacang hijau.

Untuk mengatasi serangan hama Thrips pada musim kemarau perlu dilakukan pengendalian hama Thrips agar meningkatkan hasil produksi kacang hijau.

Pengendalian dengan insektisida nabati 

Penggunaan bahan nabati dari serbuk biji mimba (SBM), biji mahoni, biji bengkuang dan umbi gadung untuk pengendalian hama Thrips masih kurang memberikan hasil yang maksimal. Hal ini disababkan oleh tingkat penekanan intensitas serangannya rendah (hampir setara dengan kontrol) dan perolehan bobot biji kering hanya berkisar 0,4-0,6 t/ha, sedangkan pada kontrol perolehan bobot biji kering lebih rendah yaitu 0,3 t/ha.

Sedangkan penggunaan Serbuk biji mimba (SBM), ekstrak bawang putih, rimpang jahe, daun pepaya, dan rendaman campuran cabe, bawang dan jahe (CBJ) mempunyai keefektifan yang setara dan lebih rendah dalam menekan populasi dan intensitas serangan Thrips bila dibanding insektisida kimia.

Apabila dihitung tingkat efikasi insektisida (EI) nabati tertinggi hanya mencapai 65%, 5% lebih rendah dari kriteria nilai EI yang dianggap efektif (70%). Peningkatan hasil kacang hijau  antara 0,159–1,261 t/ha atau 22-175 % dengan insektisida nabati, sebaliknya mengalami kehilangan hasil 63% bila tanpa upaya pengendalian hama Thrips.

Pengendalian dengan insektisida kimia

Pengendalian kimia merupakan cara pengendalian yang sering dilakukan karena mudah diterapkan dan hasilnya cepat terlihat, namun apabila penggunaannya kurang bijaksana akan mencemari lingkungan. Penggunaan insektisida ini sebaiknya digunakan apabila cara pengendalian yang lain sudah tidak efektif untuk menekan populasi hama. Oleh karena itu, aplikasinya harus didasarkan pada nilai ambang kendali hama yang akan dikendalikan.

Ambang kendali untuk hama Thrips adalah > 5 ekor Thrips dewasa/daun trifoliet pucuk pada tanaman berumur 7-14 hari. Insektisida yang digunakan sebaiknya yang bersifat selektif, artinya insektisida tersebut efektif terhadap hama sasaran, dan aman terhadap musuh alami hama.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis bahan aktif insektisida berpengaruh terhadap penekanan intensitas serangan Thrips. Aplikasi insektisida dengan bahan aktif fipronil, imidakloprid 70%, formetanate hydrocloride 25% dengan konsentrasi 1-2 ml/l sekali seminggu efektif menekan intensitas serangan hama Thrips sampai 2%, dan tidak berbeda nyata di antara ketiganya.

Sedangkan aplikasi insektisida dengan bahan aktif diafentiuron 500 g/l hanya mampu menekan intensitas serangan Thrips sampai 32% setara dengan rendaman  serbuk biji mimba 20 g/l. Pada petak yang tidak dikendalikan intensitas serangan Thrips lebih parah mencapai 100%.

Aplikasi insektisida berbahan aktif fipronil, imidakloprid 70% dan formetanate hydrocloride 25% seminggu sekali dengan konsentrasi 1-2 ml/l diperoleh hasil kacang hijau berturut-turut 0,86, 0,82, dan 0,81 t/ha berbeda nyata dengan perlakuan tanpa pengendalian yang hanya menghasilkan 0,31 t/ha biji kering. Kedua insektisida tersebut efektif menekan serangan Thrips dan menghasilkan bobot biji kering 1,8-1,98 t/ha serta memberikan tambahan hasil antara 150-175% bila dibanding kontrol.

Pengendalian dengan kombinasi insektisida nabati dan kimia

Efektifitas bahan nabati untuk pengendalian Thrips relatif rendah. Aplikasi bahan nabati sebaiknya dikombinasikan dengan insektisida kimia yang tepat waktu, sehingga frekuensi penggunaan insektisida kimia dapat dikurangi dan efektivitas pengendalian dapat ditingkatkan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi aplikasi fipronil 2 ml/l pada 7 hari setelah tanam (HST) kemudian dilanjutkan dengan aplikasi (rimpang jahe 20 g/l+minyak mimba 5 ml/l+pupuk cair 1 g/l) sebanyak empat kali aplikasi pada 14, 21, 28 dan 35 HST, efektif mengendalikan Thrips serta menghasilkan bobot biji kering 1,296 t/ha dan tidak berbeda dengan perlakuan imidaklorprit 200 SL 1 ml/l dan 2 ml/l. Kombinasi kimia dan nabati memberi harapan terhadap penekanan terhadap serangan Thrips.

Kombinasi penyemprotan fipronil 2 ml/l sekali pada 10 HST dengan rendaman rimpang jahe 20 g/l pada 17, 24 dan 31 HST efektif mengendalikan hama Thrips dengan intensitas serangan 6,8%. Efektifitas pengendalian hama Thrips tersebut dapat ditinggkatkan menjadi 3,6% bila rendaman rimpang jahe 20 g/l disemprotkan pada 24 dan 31 HST dipadukan dengan fipronil 2 ml/l sebanyak dua kali pada 10 dan 17 HST.  Kedua perlakuan tersebut efektif menekan intensitas serangan Thrips dengan nilai EI masing-masing 78,1% dan 88,4%. Kombinasi fipronil 2 ml/l dengan rendaman rimpang jahe 20 g/l efektif mengendalikan hama Thrips pada kacang hijau dan menghemat penggunaan insektisida 50-75% (Fbz)

Hama Thrips