Berita » Indonesia Menuju Swasembada Protein Hewani

(pse/22 Peb 2017)

Salah satu zat gizi yang harus dikonsumsi oleh setiap orang adalah protein. Dalam Ilmu Gizi, protein sebagai zat pembangun sel-sel tubuh, jadi protein memiliki fungsi yang sangat penting bagi pertumbuhan manusia.

Bayi dan anak-anak memerlukan protein yang lebih banyak daripada orang dewasa karena mereka masih mengalami masa pertumbuhan. Dampaknya tidak hanya mampu meningkatkan kualitas sumberdaya manusia namun juga akan mempunyai daya saing pada dunia internasional.

Ada dua jenis protein yaitu protein nabati yang berasal dari kacang-kacangan dan protein hewani berasal dari pangan asal ternak (daging, telur, susu) dan ikan. Standar anjuran rata-rata konsumsi protein berdasarkan hasil Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) ke X tahun 2012 dan sampai saat ini hasil tersebut masih menjadi rujukan sebesar 57 Gram/Kapita/hari, sedangkan tingkat ketersediaan sebesar 63 Gram/kapita/hari.

Bagaimana dengan konsumsi protein kita saat ini? Berdasarkan data Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), rata-rata konsumsi protein penduduk Indonesia tahun 2015 sudah melebihi anjuran (58,6 gram). Demikian pula ketersediaan protein yang dirilis oleh Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian pada tahun 2014 sudah mencapai 87,04 gram/kapita/hari. Diperkirakan terus meningkat seiring dengan upaya pemerintah memacu produksi pangan.

Indonesia telah berswasembada protein dan pemerintah berupaya untuk juga swasembada protein hewani. Sampai tahun 2015, konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia mencapai 21,8 gram untuk setiap harinya, lebih tinggi dari yang tersedia (18,23 gram).

Kekurangan ini yang menjadi tekad pemerintah untuk berswasembada protein hewani. Banyak ragam jenis pangan hewani tersedia di pasaran sehingga masyarakat dengan mudah menentukan pilihan sesuai dengan keuangan dan kesenangan. Hasilnya dapat dilihat dari perilaku konsumsi pangannya.

Tingkat partisipasi konsumsi pangan hewani yang tinggi adalah ikan dan telur, diikuti daging unggas terutama dari ayam ras. Partisipasi daging sapi hanya 8,2%, jadi kebijakan yang excellent kalau akhirnya pemerintah mendorong swasembada protein hewani sebagai pengganti swasembada daging sapi yang telah dicanangkan beberapa waktu lalu.

Apalagi negara Indonesia kaya akan pangan sumber protein hewani, baik yang ada di darat maupun di laut, yang harus terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan semua penduduk secara berkelanjutan. (Mewa).

Informasi lebih lanjut : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

grafik unggas