Berita » Padi Sigupai, Varietas Lokal dari Aceh yang Hampir Punah

(tp/12 Mei 2017)

Tepatnya di Kabupaten Aceh Barat, varietas lokal padi gogo Sigupai banyak ditanam bahkan pada dua agroekosistem, yaitu lahan kering dan lahan sawah. Di lahan kering, padi Sigupai tidak berbeda dengan padi gogo lainnya. Namun umurnya relatif panjang, hingga mencapai enam bulan.

Batangnya tegak, tinggi tanaman 125 cm, anakan 20, panjang malai 25 cm, mempunyai malai panjang, bentuk gabah ramping dan kuning. Bentuk bulir padinya bengkok seperti bulan sabit.

Keunggulan lainnya, padi lokal ini memiliki ciri rasa nasi yang enak dan aromatik pandan wangi. Oleh karena itu, varietas padi lokal Sigupai banyak diminati konsumen, sehingga menjadikannya bernilai ekonomis tinggi.

Adapun di lahan sawah, berdasarkan penelitian oleh BPTP Aceh, menunjukkan bahwa umur panennya menjadi lebih genjah, yaitu 4,10 hari dengan produksi 4,9 ton/ha GKG.

Hasil ini mendekati perolehan panen VUB di luar lokasi kegiatan adaptif Sigupai yang mencapai rata-rata 5,8 ton/ha. Bahkan hasil panen dari lahan sawah tersebut juga tetap menunjukkan tidak hilangnya rasa nasi yang aromatik dan pandan wangi.

Namun demikian, selama 20 tahun terakhir, tidak banyak petani yang menanam padi Sigupai. Meskipun sampai sekarang nama Sigupai telah menjadi icon wilayah pantai barat khususnya Kabupaten Aceh Barat Daya.

Untuk itu, diperlukan upaya pelestarian dan pemanfaatan sumber daya genetik lokal spesifik lokasi agar keberadaan varietas lokal dapat dilestarikan dan tidak musnah. (vwh/mhr)

Informasi lebih lanjut: BPTP Balitbangtan Aceh