Berita » Toleran Cekaman Kekeringan pada Sorgum

(tan/16 Mei 2017)

Sorgum merupakan tanaman serealia potensial untuk dikembangkan untuk menunjang program ketahanan pangan dan agribisnis mengingat daya adaptasinya yang luas serta kebutuhan airnya rendah.

Keunggulan sorgum memiliki daya adaptasi luas pada berbagai agroekologi (Pantai hingga pegunungan), kebutuhan airnya sedikit, sekitar 150-200 mm/musim (separuh kebutuhan air jagung, sepertiga kebutuhan air tebu), tahan pada lahan marjinal seperti lahan masam, asin dan basa, dapat tumbuh pada tanah miring, dan lebih tahan hama penyakit.

Sorgum dikenal sebagai tanaman yang toleran terhadap cekaman abiotis khususnya kekeringan dan cuaca panas. Mekanisme ketahanan tanaman sorgum terhadap kekeringan dipengaruhi oleh Sistem perakaran tanaman, karakteristik daun, pengaturan osmotik.

Sistem perakaran sorgum

Kekurangan air bagi tanaman biasanya ditandai oleh menurunnya nilai potensial air tanaman. Penurunan nilai potensial air apabila berlangsung terus-menerus menyebabkan tanaman menjadi layu atau mati. Laju pemulihan kembali atau recovery tanaman dari stres kekeringan dipengaruhi oleh sistem perakarannya.

Sorgum memiliki akar yang lebat, ekstensif, dan bercabang sehingga apabila terjadi stres kekeringan maka perakaran akan menyerap air secara cepat dan tersedia bagi tanaman (ditandai oleh peningkatan nilai potensial air tanaman), sehingga recovery berlangsung lebih cepat. Selain itu, akar tanaman sorgum mampu tumbuh lebih dalam hingga kedalaman 120-180 cm apabila cekaman kekeringan terjadi.

Sistem perakaran tanaman memegang peranan penting dalam menentukan laju perakaran untuk mengekstrak air lebih banyak atau mengatur laju transportasi air ke tanaman merupakan mekanisme penting untuk menghindari stress kekeringan atau cuaca panas.

Karakteristik Lapisan Lilin pada Daun

Tanaman sorgum mempunyai karakteristik unik yang jarang ditemui pada tanaman pangan sejenisnya, yaitu terdapatnya lapisan lilin yang tebal berwarna putih pada gagang bunga, ketiak daun, dan permukaan daun.

Lapisan lilin ini dikendalikan oleh gen dominan, yaitu BmBm. Lapisan lilin membantu meningkatkan ketahanan tanaman sorgum terhadap cekaman kekeringan atau cuaca panas. Gen BmBm mengontrol laju penyerapan air dari dalam tanah dan mengontrol radiasi yang masuk sehingga laju transpirasi dapat terkontrol.

Pengaturan Osmotik (Osmoregulation)

Osmoregulasi adalah penyesuaian osmotik oleh sel melalui sintesis dan akumulasi solut sebagai respon terhadap defisit kekurangan air. Solut terdiri dari campuran senyawa asam organik, asam amino, dan gula. Osmoregulasi adalah upaya tanaman untuk menjaga turgor sel akibat penurunan potensial air tanaman.

Mekanisme ini oleh tanaman sorgum saat mengalami cekaman kekurangan air dimana tanaman menurunkan potensial air daun yang kemudian diikuti oleh menutupnya stomata daun. Selain itu saat terjadi stress maka daun akan menggulung kedalam yang kemudian memperlambat laju transpirasi.

Luas daun sorgum lebih kecil dibandingkan jagung sehingga memungkinkan sorgum mengendalikan transpirasi saat kekeringan dan kondisi angin kencang.

Dengan kata lain tanaman sorgum melakukan adaptasi terhadap cekaman kekurangan air melalui pengaturan pengeluaran air dalam bentuk transpirasi melalui stomata sehingga penguapan air pada daun akan berkurang. (fzp)

sorgum