Berita » Meningkatkan Produksi Dengan Nanobiosilika Sekam Padi

(psc/15 Mei 2017)

Indonesia merupakan salah satu produsen utama padi di dunia. Peningkatan produksi padi dari tahun ke tahun terlihat sangat signifikan, pada tahun 2016 saja, produksi padi di Indonesia tercatat mencapai 79 juta ton gabah kering giling atau yang tertinggi sepanjang sejarah produksi padi Indonesia.

Upaya peningkatan produksi padi akan diikuti meningkatnya limbah penggilingan padi, diantaranya berupa sekam. Sekitar 20% berat gabah merupakan sekam. Dengan demikian, dari produksi padi tahun 2016 saja dihasilkan sekitar 15,8 juta ton sekam padi yang saat ini belum optimal pemanfaatannya dibandingkan potensi nilai ekonominya.

Sebagai contoh, pemanfaatan sekam sebagai bahan bakar pengering gabah dan bahan asap cair masih menyisakan limbah abu sekam yang belum banyak dimanfaatkan. Padahal, sekitar 50% berat abu sekam padi merupakan silika, suatu bahan yang bernilai ekonomi tinggi.

Harga silika di pasaran dapat mencapai Rp. 10.000,00/kg hingga Rp. 250.000,00/g tergantung jenis dan kualitasnya. Jika 20% berat sekam padi merupakan silika dan harga silika dianggap Rp. 10.000,00/kg, maka dari limbah sekam padi Indonesia tahun 2016 saja terdapat potensi nilai ekonomi sekitar Rp. 31,6 trilyun.

Balitbangtan telah mengembangkan teknologi sol-gel energi rendah skala semi pilot untuk memproduksi silika dari sekam padi dengan ukuran partikel berskala nanometer (20 – 200nm) yang kemudian dinamakan nanobiosilika.

Produk nanobiosilika dapat dihasilkan dari sekam, arang sekam ataupun abu sekam. Sebagai contoh, produk nanobiosilika dari abu sekam dapat dihasilkan dengan rendemen lebih dari 50% dengan kemurnian/kandungan silika mencapai 97%.    

Silika diketahui dapat berperan dalam meningkatkan kekuatan jaringan tanaman, efisiensi penguapan air dari jaringan tanaman, dan efektivitas fotosintesis, sehingga tanaman tidak mudah rebah, lebih tahan terhadap serangan hama penyakit dan dampak kekeringan, serta memberikan potensi hasil lebih tinggi.

Produk nanobiosilika serbuk juga telah diterapkan sebagai penyalut pupuk urea dengan manfaat tambahan untuk mengendalikan pelarutan sekaligus meningkatkan efisiensi pupuk nitrogen.

Uji coba aplikasi nanobiosilika serbuk pada tanaman padi varietas Inpari 32 telah dilakukan Balitbangtan. Hasil ujicoba tersebut menunjukkan pemberian nanobiosilika serbuk dapat meningkatkan kekuatan batang tanaman padi, kekuatan rumpun terhadap kerebahan, menghasilkan jumlah anakan produktif yang lebih banyak, serta memberikan peningkatan produksi padi sekitar 1 ton/ha dibandingkan tanpa pemberian nanobiosilika.

Saat ini aplikasi nanobiosilika serbuk pada tanaman padi sedang dilakukan pada skala lebih luas di Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Produksi nanobiosilika dari sekam padi dan mengembalikannya sebagai hara tanaman padi merupakan wujud pertanian bioindustri ramah lingkungan yang dapat meningkatkan nilai tambah dan daya saing produksi padi, beras dan  hasil samping pengolahannya. (iga)

Nanobiosilika serbuk