Berita » Mangga Gadung 21, Mangga Alpukat Kabupaten Pasuruan

(hor/14 Jun 2017)

Sebelumnya Mangga Gadung 21 disinonimkan dengan Arumanis 143 karena keduanya mempunyai kemiripan penampakan morfologi, yang mana hal ini sempat menyulitkan dalam pemasaran produksi maupun produksi benihnya.

Padahal keduanya mempunyai beberapa pembeda yang cukup signifikan, antara lain Gadung 21 memiliki ukuran buah lebih besar pangkal buahnya lebih bulat dibandingkan Arumanis 143, kemudian Gadung 21 juga mempunyai kadar pati lebih tinggi (10,27%) dibanding Arumanis 143 (6,83) hal ini akan mempengaruhi perbedaan citarasa antara keduanya.

Selain itu pada dendogram hasil analisa DNA keduanya mempunyai jarak yang cukup jauh, hal ini mempunyai arti bahwa  antara Gadung 21 dan Arumanis 143 mempunyai sifat genetik yang berbeda. 

Sebelum didaftarkan sebagai varietas unggul, mangga Gadung 21 telah berkembang dalam skala komersial di Kabupaten Pasuruan sejak tahun 1994 melalui program Pembangunan Pertanian Rakyat Terpadu dan sekarang berkembang sebanyak 3.925 Ha dengan jumlah tanaman 337.375 pohon didukung dengan pusat pemasaran lokal, regional dan nasional. Artinya mangga Gadung 21 sudah menjadi public domain sejak tahun 1994.

Mangga Gadung 21 memiliki keunggulan ukuran buah besar, daging buah tebal, kuantitas serat pada daging buah rendah, kadar pati cukup tinggi (10,27 %) dan kadar air rendah (75-77 %) dan rasa manis (TSS 15-21 °Brix).        

Mangga  Gadung 21 oleh masyarakat diberi julukan “mangga alpukat”  karena cara makannya bisa dibelah tengahnya, kemudian diputar hingga terbelah menjadi dua dan dapat dimakan menggunakan sendok seperti makan buah alpukat. Untuk mendapatkan buah mangga yang bisa dimakan seperti  alpukat, buahnya harus dipanen masak pohon. (Ind)

Mangga Gadung 21