Berita » Jeruk Topo Tidore, Plasma Nutfah yang Terancam Punah

(tp/16 Jun 2017)

Asal muasal jeruk Topo sesuai dengan namanya, berasal dari Kelurahan Topo, Kecamatan Tidore, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara. Jeruk ini berjenis keprok dan merupakan plasma nutfah jeruk Indonesia yang terancam punah. Penyebab kepunahan itu adalah banyaknya serangan penyakit diplodia di habitat aslinya.

Penyakit diplodia disebabkan oleh jamur Botryodiplodia theobromae Pat yang menyerang batang dan cabang. Akibatnya, populasi tanaman jeruk ini pun berkurang secara signifikan karena banyak tanaman yang mati terserang jamur ini. Bahkan saat ini, diketahui bahwa pohon induk jeruk Topo tidak lagi berada di Kelurahan Topo, akan tetapi berada di kelurahan tetangga, yaitu Kelurahan Gurabunga.

Keberadaan BPTP Maluku Utara membawa angin segar bagi penyelamatan plasma nutah jeruk keprok Indonesia tersebut. Sejak tahun 2010, BPTP Maluku Utara telah melakukan eksplorasi, karakterisasi, dan bersama-sama dengan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Sub Tropika (Balitjestro) juga melakukan upaya konservasi secara ex situ.

Upaya konservasi ex-situ ini ditujukan untuk pemurnian dan produksi bibit jeruk bebas penyakit di Kebun Percobaan Tlekung, Kota Batu, Jawa Timur. Saat ini jeruk Topo sudah terdaftar di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman (PPVT) Kementerian Pertanian dengan tanda daftar varietas tanaman: 233/PVL/2016.

Keunggulan jeruk ini terdapat beberapa buah yang seedless tetapi secara umum jumlah bijinya 8-10 bij per buah dengan bentuk buah bulat lonjong dan warna kulit buah masak orange dan warna daging buah krem kemerahan. Bobot buah per butir 200,9-250,3 gram dengan rasa manis. Produktivitas jeruk Topo bisa mencapai 50 kg/pohon. (vwh)

Info lebih lanjut: BPTP Balitbangtan Maluku Utara