Berita » Tarabas, Beras Tipe Japonica Pertama Di Indonesia

(pdi/14 Sep 2017)

Selain beras medium dan premium yang telah mampu dicukupi oleh produksi dalam negeri, masih terdapat beberapa jenis beras khusus yang juga mempunyai penikmat di beberapa kalangan. Beras-beras khusus yang selama ini masih diimpor itu  antara lain tipe beras Japonica, Basmati dan beras dengan indeks glikemik rendah.

Permintaan beras khusus saat ini cenderung meningkat disebabkan semakin meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Beras Japonica merupakan salah satu tipe beras khusus yang semakin populer di masyarakat, yang dicirikan dengan mutu beras premium dengan tekstur nasi yang sangat pulen dengan kadar amilosa yang rendah.

Beras tipe ini biasa disajikan di rumah makan bernuansa Asia Timur seperti rumah makan Jepang dan Korea yang semakin menjamur di tanah air. Selain itu meningkatnya jumlah ekspatriat dan wisatawan asing dari kawasan Asia Timur ke Indonesia juga menyebabkan peningkatkan konsumsi beras tipe ini di dalam negeri. 

Hal ini menjadikan volume impor beras khusus ke Indonesia semakin tinggi. Oleh karenanya untuk menekan impor beras dibutuhkan terobosan teknologi di dalam negeri yang mampu menghasilkan produk subtitusi beras khusus tersebut.

Sebagai bentuk respon terhadap tantangan tersebut, Badan Litbang Pertanian bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada tahun 2017 berhasil mengembangkan varietas unggul baru yang memiliki mutu beras japonica premium dengan nama varietas Tarabas.

Keunggulan utama varietas ini adalah mutu berasnya yang sangat baik dan memenuhi standar beras japonica premium sehingga dapat menjadi subtitusi impor beras tipe japonica. Varietas Tarabas memiliki kadar amilosa yang rendah (17%) dan tergolong sebagai sticky rice sehingga nasinya dapat disantap dengan menggunakan sumpit. 

Keunggulan lain dari varietas ini adalah tahan terhadap beberapa ras penyakit blas dan agak tahan penyakit tungro, dua penyakit penting yang sering mengganggu pertanaman padi sawah. Namun demikian varietas ini juga masih memiliki kelemahan khususnya di ketahanannya terhadap wereng batang coklat dan hawar daun bakteri (kresek), sehingga pengendalian terhadap kedua OPT tersebut di pertanaman varietas Tarabas harus optimal.

Badan Litbang Pertanian saat ini terus berupaya untuk memperbaiki ketahanan varietas Tarabas ini dengan menyilangkannya dengan varietas-varietas unggul lain yang lebih tahan. Karakter padi tarabas ini yaitu: hasil 4-5 t/ha, kadar amilosa 17,73%, dan tingkat kepulenan sangat pulen (tipe beras japonica)

Varietas Tarabas direkomendasikan untuk ditanam di lahan sawah irigasi dataran rendah sampai menengah, di daerah yang bukan endemik wereng batang coklat dan kresek.

Teknologi budidaya varietas ini sama dengan varietas unggul padi lainnya dengan berpedoman pada prinsip-prinsip Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) dan Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Karakteristik mutu giling beras varietas Tarabas yang bersifat khusus membutuhkan penanganan pasca panen yang spesifik untuk beras tipe japonica. Benih sumber varietas Tarabas saat sedang diproduksi oleh Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) Badan Litbang Pertanian dan diharapkan dapat tersedia dalam jumlah yang memadai pada akhir tahun 2017.

Badan Litbang Pertanian terus berupaya untuk menghasilkan inovasi pertanian yang mendukung program pembangunan pertanian nasional. Kehadiran varietas padi japonica Tarabas, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pasar domestik terhadap beras Japonicamendukung program Pemerintah untuk menekan impor beras khusus ke Indonesia. (Shr)

tarabas