Berita » Serangan WBC dan Virus Kerdil di Subang Masih dibawah Ambang Batas

(pdi/10 Sep 2017)

Subang (10/09/2017) - Dari laporan yang diterima, serangan wereng coklat di kecamatan Compreng cukup tinggi. Sehingga Kepala Badan Litbang Dr. Ir. Muhammad Syakir, M.S. melakukan verifikasi dengan kunjungan dan melihat langsung kondisi pertanaman di tiga desa kecamatan Compreng yaitu desa Mekarjaya, desa Jatimulya, dan desa Sukadana. Dalam kunjungannya, Dr. Ir. Muhammad Syakir, M.S berdiskusi dengan para petani, ketua Gapoktan dan Ketua KTNA di Kecamatan tersebut.

Kepala Badan mengatakan “Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, dan jika para petani ingin berhasil dalam menanam padi, anut pertanian modern sesuai anjuran Kementerian Pertanian, lakukan tanam serempak dan lakukan pergiliran varietas dengan menanam varietas tahan wereng seperti Inpari 33, Inpari 42  dan Inpari 43, hasil Litbang Pertanian, ungkap Dr. Ir. Muhammad Syakir, M.S pada pertemuan di Desa Mekarjaya.

Rekomendasi dari Badan Litbang Pertanian dalam mengatasi permasalahan Serangan WBC dan virus kerdil yaitu tanam serempak, penggunaan varietas unggul tahan wereng produksi tinggi serta pemasangan lampu perangkap dimaksudkan untuk memonitor keberadaan hama sekaligus pengendalian, kemudian Badan Litbang Pertanian juga melakukan penyuluhan dan pelatihan kepada petugas dan gapoktan tentang pengendalian WBC dan virus kerdil. Selain itu, ada juga demplot hasil inovasi berupa varietas unggul baru tahan WBC.

Kabupaten Subang merupakan daerah yang memiliki sentra produksi padi di Jawa Barat. Kabupaten ini mempunyai luas baku sawah sebesar 84. 570 ha, yang tersebar di 30 kecamatan dengan areal sawah terluas berada di Kecamatan Ciasem. Berdasarkan data dari petugas POPT per 31 Agustus 2017 dengan standing crop seluas 64.003 ha, dengan luas serangan WBC  227 ha  (0,35%), virus kerdil hampa seluas 33 ha (0,05%), dan virus kerdil rumput seluas 40 ha (0,06%). 

Pertanaman padi sawah di Kecamatan Compreng pada musim tanam ke-dua 2017 mencapai 4.838 ha yang terdiri dari delapan desa. Salah satu desa yang tidak mengalami masalah dengan kondisi pertanaman pada musim ini adalah Desa Mekarjaya yang sebelumnya telah melakukan eradikasi pertanaman seluas ± 500 ha akibat serangan virus kerdil rumput dan kerdil hampa. Eradikasi menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar lagi dalam pengendalian virus kerdil dan terbukti pada pertanaman padi yang saat ini berumur 21 hari di desa ini terkendali dengan baik.

“musim tanam saat ini, serangan penyakit di Kecamatan Compreng cukup tinggi, terutama virus kerdil tetapi berkat pengawalan dan rekomendasi dari Badan Litbang Pertanian melalui BB Padi dan BPTP Jawa Barat serta petugas lapangan POPT pertanaman di desa Mekarjaya aman dan tumbuh lebih sehat”, ujar Warsono Ketua KTNA yang akrab dipanggil Pak Bewok.

Ditambahkan, kendala yang sekarang dihadapi adalah sulitnya petani di Kecamatan Compreng untuk beralih menggunakan varietas unggul sesuai yang direkomendasikan, dan masih banyak yang menanam varietas padi ketan varietas Grendel dan IR 42 yang rentan WBC, tambah .  Masalah lain, petani di wilayah tersebut belum melakukan tanam serempak.

Sebagai bentuk aksi nyata pada kunjungan di Kecamatan Compreng ini Kepala Badan Litbang Pertanian menyerahkan bantuan benih varietas unggul baru yang tahan terhadap WBC yaitu Inpari 33, Inpari 42 Agritan GSR, Inpari 43 Agritan GSR dan pestisida nabati untuk mengurangi penggunaan pestisida kimia. 

Harus ada dorongan yang kuat dari Pemerintah Daerah kepada  petani untuk melakukan tanam serempak, menerapkan hasil-hasil inovasi teknologi Badan Litbang Pertanian. Selain itu, perlu sosialisasi asuransi secara masif untuk mengurangi resiko kegagalan panen terutama bagi yang belum menerapkan inovasi teknologi. (Shr)

Serangan WBC dan Virus Kerdil