Berita » Kita Tidak Boleh Tersandera Perubahan Iklim

(adm/13 Sep 2017)

BOGOR – Sektor pertanian adalah sektor yang paling terpengaruh oleh perubahan iklim, hal ini terjadi karena pengaruh ketersediaan air bagi tanaman, intensitas dan lamanya hujan yang meningkatkan erosi tanah, pencucian hara dan banjir. Selain itu juga musim kemarau yang panjang dapat menyebabkan kekeringan dan berpotensi kebakaran serta meningkatkan suhu udara yang dapat meningkatkan serangan hama dan penyakit.

Hal itu menyebabkan upaya adaptasi dan mitigasi harus terus dilakukan. Hal ini pula yang dibahas dalam Lokakarya dan Seminar Nasional Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim di Bogor, Rabu (13/09/2017). Seminar ini diselenggarakan untuk menghimpun berbagai praktek lokal maupun pelaku usaha yang berkaitan dengan adaptasi perubahan iklim dan membahas berbagai isu terkini perubahan iklim untuk perumusan kebijakan penanganannya.

Kepala Balitbangtan Dr. Muhammad Syakir dalam keynote speechnya mengatakan bahwa salah satu langkah penting yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan pembangunan pertanian adalah dengan beradaptasi terhadap perubahan iklim agar pertanian tetap tangguh. “Untuk itu, aksi adaptasi menjadi keharusan untuk dapat menjaga ketahanan pangan.” Lanjut kepala Badan.

Kepala Badan juga menegaskan bahwa Indonesia akan terus mengandalkan adaptasi perubahan iklim melalui aneka teknologi terutama teknologi yang juga sesuai dengan agroekosistem Indonesia sehingga akan berdampak positif pada produktivitas. “Kita tidak boleh tersandera oleh perubahan iklim, sehingga Balitbangtan telah menyiapkan beragam teknologi untuk menghadapinya, mulai dari varietas unggul hingga teknologi pendukungnya” tegas Kepala Badan.

Aneka teknologi yang disiapkan antara lain varietas amphibi yang tahan dengan curah hujan tinggi sekaligus mampu berproduksi baik pada kondisi kekeringan, selain itu juga berbagai teknologi pendukung seperti teknologi Jarwo Super di lahan sawah intensif, teknologi larwo super untuk jagung,  biodekomposer, teknologi tata kelola air, teknologi penanganan hama dan penyakit hingga inovasi teknologi informasi seperti kalender tanam terpadu dan sistem monitoring standing crop tanaman padi.

Selain itu, Kementerian Pertanian juga telah berupaya mengembangkan strategi adaptasi dan mitigasi, antara lain dengan pembentukan kelompok kerja perubahan iklim yang bertugas untuk mengembangkan teknologi dan mendiseminasikan Climate Smart Agriculture (CSA), yang kegiatannya meliputi pengenalan dan penerapan pertanian konservasi didaerah dengan curah hujan rendah, pembangunan embung dan sarana bangunan air lainnya, teknologi pengelolaan tanah dan air serta menyediakan data dan informasi sumberdaya lahan yang berisi peta kesesuaian lahan dan rekomendasi pengelolaannya.(Ybh)

simnas bbsdlp