Berita » JH36, Jagung Hibrida Unggul Baru

(tan/14 Nop 2017)

Badan Litbang Pertanian terus berinovasi menghasilkan teknologi untuk mendukung swasembada pangan yang telah dicanangkan oleh Pemerintah. Setelah sukses melepas JH 27 pada tahun 2015 dengan keunggulan umur panen 98 hari dan stay green, Balitbangtan kembali menghasilkan inovasi teknologi lainnya yaitu JH 36 dengan dengan umur panen lebih cepat 9 dari JH 27.

JH 36 merupakan varietas unggul baru (VUB) jagung hibrida (JH) yang telah dilepas pada 18 Oktober 2016 yang dirakit oleh Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitsereal).

VUB JH 36 ini merupakan jenis hibrida silang tunggal (single cross) yang diperoleh dari hasil persilangan galur murni Nei9008P sebagai tetua betina dengan galur murni GC14 sebagai tetua jantan (Nei9008 x GC14). Kedua galur ini diketahui mempunyai daya gabung yang baik pada pengujian pada 16 lokasi atau musim.

Keunggulan dari JH 36 adalah memiliki prospek yang sangat baik untuk dikembangkan baik di lahan optimal maupun sub optimal. Penampilan dengan biji berwarna jingga bertipe mutiara (flint).

JH 36 sangat sesuai digunakan sebagai bahan baku pakan karena memiliki sifat stay green dimana warna batang dan daun di atas tongkol masih hijau saat biji sudah masak/waktu meski telah memasuki masa panen.

JH 36 memiliki umur masak fisiologis yang relatif genjah sekitar 89 hari dan mampu menghasilkan 12,2 ton/ha (pipilan kering, kadar air 15%). Rata-rata hasil yang didapat pada pengujian multi lokasi mencapai 10,6 ton/ha atau dua kali dari capaian produktivitas jagung nasional saat ini yang baru mencapai 5,1 ton/ha.

Selain berumur genjah, JH 36 juga tahan rebah dan beradaptasi luas di dataran rendah-sedang. Ketahanan penyakit yang dimiliki varietas ini adalah tahan terhadap penyakit bulai, karat daun dan hawar daun. (FZP)

Jagung hibrida