Berita » Panen Padi Hibrida dan Temu Lapang di Tabanan Bali

(pdi/07 Des 2017)

Temu lapang dan gelar teknologi padi hibrida mengangkat tema “Meningkatkan Daya Saing Petani Melalui System Pertanian Berbasis Komunitas dipusatkan di Desa Tajen, Kec. Penebel, Kab. Tabanan, Bali, selasa (5/12/2017).

Gelar teknologi tersebut merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan The International Hybrid Rice Symposium yang rencananya akan diselenggarakan di Yogyakarta  pada Februari  2018.

Kegiatan tersebut merupakan kerjasama Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dengan Pemerintah Prov. Bali, mitra swasta. Gelar teknologi terdiri dari 15 ha demplot varietas padi hibrida dengan teknik budidaya terkini, serta 35 ha denfam pertanian berbasis komunitas (small farmer Large Filed).

Varietas yang ditanam sebanyak 12 varietas unggul hibrida hasil inovasi Balitbangtan seperti varietas Hipa 18, Hipa 19, Hipa Jatim 2 dan varietas hibrida dari mitra swasta. Varietas hibrida yang ditanam memiliki ketahanan terhadap hawar daun bakteri dan pernyakit utama padi. Selain itu, masih dilokasi yang sama ditanam 11 genotipe hibrida yang berasal dari International Rice Research Institute’.

Hadir dalam acara temu lapang Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta, Kepala Balitbangtan yang diwakili Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Dr. Ismail Wahab, Bupati, Kepala Dinas Provinsi Bali, Kepala BPTP Bali, dan seluruh jajaran baik Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah Prov. Bali dan mitra swasta serta petani sebanyak 500 orang.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Gubernur melakukan panen perdana padi hibrida di Subak Tajen, Kabupaten Tabanan, sembari mengajak semua pihak agar memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan ketahanan pangan.

"Momentum ini sekaligus mengingatkan kita untuk melakukan penjagaan ketahanan pangan kita, terutama saat mengalami musibah bencana Gunung Agung," ujar Wakil Gubernur.

Ditegaskan, sektor pertanian tidak bisa ditinggalkan, terlebih apabila terjadi sesuatu dengan dunia pariwisata seperti saat ini imbas dari situasi Gunung Agung, maka pertanian akan menjadi andalan Provinsi Bali.

"Untuk itu, Pemerintah Provinsi Bali dan semua pihak memiliki tanggung jawab mewujudkan ketahanan pangan khususnya di Bali, yang meliputi ketersediaan pangan, distribusi dan aksesibilitasnya." tambah Wakil Gubernur.

Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, ketersediaan beras di Bali telah surplus. Produksinya mencapai 850 ton beras pertahun, sedangkan kebutuhan pokok beras hanya 400 ton pertahun.

Wakil Gubernur menambahkan bahwa pertanian merupakan bidang yang sangat penting dalam menunjang perekonomian daerah Bali. Bidang petanian menempati posisi kedua dalam menyumbang pendapatan daerah Provinsi Bali setelah pajak kendaraan bermotor. "Pendapatan di bidang pertanian menyumbang pendapatan asli daerah sebesar 14,9 persen dari seluruh pendapatan Provinsi Bali." tambah Wakil Gubernur.

Wakil Gubernur melanjutkan bahwa mengenai infrastruktur yang juga harus menjadi perhatian, terutama irigasi saluran air, fasilitas jalan-jalan produksi, adopsi teknologi yang ada dan juga penggunaan benih unggul guna peningkatan produksi agar lebih maksimal.

Sebelumnya, Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Moh Ismail Wahab mengatakan bahwa Indonesia telah berhasil swasembada beras dan pemerintah berkomitmen untuk dapat mempertahankan swasembada ini, bahkan bertekad menjadi lumbung pangan di 2030.

Untuk itu, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Balitbangtan sudah menyiapkan varietas unggul padi hibrida yang mampu menghasilkan padi kualitas tinggi seperti yang telah diterapkan di Subak Tajen, Kabupaten Tabanan

Kondisi Bali yang saat ini sedang terkena musibah, rupanya tidak menyurutkan semangat kerja keras petani dan seluruh petugas di Subak Tajen untuk terus berkarya  dalam menerapkan hasil inovasi Badan Litbang Pertanian.

Satu hal yang menarik adalah hadirnya teknologi modern padi hibrida yang tetap bersanding harmonis dengan kearifan lokal budaya Bali. Diharapkan kegiatan-kegiatan seperti ini bisa ditiru oleh daerah-daerah lain dalam rangka peningkatan produksi padi untuk mempertahankan swasembada beras nasional, sekaligus Indonesia menjadi Negara pengekspor beras dan mewujudkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia.(Shr)

Lampiran