Berita » Pengembangan Teknologi Proliga Bawang Merah Mendukung Ketersediaan Bawang Merah Nasional

(hor/10 Jan 2018)

Bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki peranan penting dalam menentukan kondisi perekonomian nasional Indonesia. Komoditas ini memiliki peran dalam menyumbangkan angka inflasi terutama pada saat produksinya menurun di musim-musim tertentu. Naiknya bawang merah akan juga membawa dampak pada benih bawang merah, karena selama ini belum ada pemisahan yang jelas antara usaha bawang merah konsumsi dan benih.

Salah satu cara untuk mengatasi masalah ketersediaan benih ialah melalui penggunaan benih asal biji botani TSS (True Seed of Shallot). Penggunaan TSS memiliki beberapa keunggulan antara lain, yaitu  (a) kebutuhan jumlah benih lebih rendah (5-7 kg/ha), (b) penyimpanan benih lebih mudah dengan masa simpan yang lebih panjang yaitu 1-2 tahun, serta (c) bebas virus dan penyakit tular benih. Introduksi inovasi TSS ke dalam sistem produksi bawang merah di Indonesia diharapkan memberi dampak luas terhadap peningkatan kesejahteraan petani dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Lokasi yang memenuhi syarat untuk budidaya off season bawang merah asal TSS,  antara lain, yaitu a) Lahan yang subur untuk tanaman bawang merah, iklim kering dengan bulan kering  4-5  bulan, curah  hujan  1000-1500  mm/th,  dan suhu  sekitar  25-32 ˚C,  pH tanah  5,5-6,5,  lahan  tidak  ternaungi,  dan  berdrainase  baik. b) Lahan yang baik adalah lahan bekas sawah di dataran rendah sampai medium/tinggi. Untuk off season (musim hujan) pilih lahan sawah atau tegalan dalam kawasan atau hamparan bawang merah dengan tekstur tanah sedang (lempung berpasir) dan strukturnya gembur atau remah.  c) Sebaiknya menggunakan Lahannya bukan bekas pertanaman bawang merah sebelumnya, serta bebas dari penyakit  tular tanah seperti nematode, fusarium  dan/atau penyakit busuk umbi.

Ketersediaan benih bermutu telah disadari bersama perlu mendapat perhatian khusus, karena merupakan unit fundamental dalam sistem produksi bawang merah. Beranjak dari diperolehnya inovasi produksi benih asal biji botani TSS (true shallot seed), strategi peningkatan produksi bawang merah, Balitbangtan sejak tahun 2017 memberikan porsi perhatian yang sangat besar terhadap pengembangan bawang merah asal biji botani.

Untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing TSS tersebut perlu dukungan pemerintah dalam membangun jejaring kerjasama perbenihannya dengan petani/penangkar di daerah-daerah sentra produksi sesuai implementasi teknologinya bersifat spesifik lokasi. Badan Litbang Pertanian sebagai penghasil inovasi berperan penting terhadap keberhasilan produksi dan pengembangan TSS.

Dalam hal ini diperlukan keterlibatan, sinergi dan kerja sama banyak pihak baik perguruan tinggi, institusi penelitian lainnya, penangkar, BPSB maupun swasta. Secara umum sinergi dan kerja sama meliputi perakitan dan pengembangan VUB, produksi dan distribusi benih sumber dan benih sebar, pengendalian mutu melalui sertifikasi benih dan optimalisasi fungsi kelembagaan perbenihan. Sejalan dengan program pengembangan bawang merah Balitbangtan, kegiatan produksi TSS akan terus dilaksanakan di tahun-tahun mendatang agar teknologi produksi benih TSS dapat didiseminasikan ke kalangan pengguna secara lebih luas. Produksi Lipat Ganda (Proliga) Bawang Merah asal TSS terdapat di beberapa daerah yaitu Solok, Sumatera Barat, Riau dan Lombok Timur. (Ind)

Prosduksi Bawang Merah benih TSS