Berita » Jejak Perkembangan Jagung Hibrida di Indonesia

(tan/02 Jan 2019)

Jagung merupakan salah satu komoditas yang diprogramkan pemerintah Indonesia untuk mencapai swasembada dan target ekspor. Hal tersebut dikarenakan oleh  kebutuhan jagung dalam negeri yang meningkat 3,77% setiap tahunnya seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya industri pangan dan pakan ternak unggas. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka produktivitas harus ditingkatkan dan biaya produksi harus ditekan seefisien mungkin. Salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas dengan biaya rendah adalah dengan menggunakan jagung hibrida.

Pada tahun 2015, penggunaan jagung hibrida di Indonesia baru mencapai 56% dari total 3,79 juta ha luas panen jagung, dan sisanya petani menggunakan jagung bersari bebas dengan tingkat produktivitas yang lebih rendah dibandingkan hibrida (BPS, 2015; Kementerian Pertanian, 2015). Penelitian jagung hibrida di Indonesia dimulai tahun 1950an oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian. Hibrida silang puncak dan silang tunggal yang dibentuk pada tahun 1950an - 1970an menunjukkan hasil yang sama atau lebih tinggi 20-40% dibandingkan populasi dasarnya atau varietas komposit introduksi saat itu (varietas Perta dan Kalingga) tetapi hibrida yang dihasilkan tersebut tidak dilepas sebagai varietas.

Pemerintah Indonesia sejak tahun 1983 meningkatkan program pengembangan jagung hibrida yang didukung oleh organisasi perbenihan yang lebih baik, partisipasi perusahaan swasta, pengetahuan petani tentang budidaya jagung hibrida yang semakin tinggi, dan didukung anggaran penelitian dan pengembangan oleh pemerintah yang lebih tinggi. Hibrida pertama yang dilepas di Indonesia yaitu hibrida Silang Puncak introduksi varietas C1 (dilepas tahun 1983) yang dihasilkan oleh PT Cargill dengan hasil rata-rata 5,8 ton/ha. Hibrida Silang Tiga Jalur pertama yang dilepas di Indonesia yaitu varietas Pioneer-1 yang dihasilkan oleh PT Pioneer dan dilepas tahun 1985 dengan hasil rata-rata 5,5 ton/ha. Hibrida Silang Ganda pertama yang dilepas di Indonesia yaitu varietas Pioneer-3 yang dihasilkan oleh PT Pioneer dan dilepas tahun 1992 dengan hasil rata-rata 6,4 ton/ha. Hibrida Silang Tunggal pertama yang dilepas di Indonesia yaitu varietas IPB-4 yang dihasilkan oleh Institute Pertanian Bogor (IPB) dan dilepas tahun 1985 dengan hasil rata-rata 5,4 ton/ha.

Varietas unggul yang dihasilkan dari kegiatan pemuliaan akan berdampak pada peningkatan produktivitas, produksi dan nilai tambah usaha tani jagung karena daerah produksi jagung di Indonesia sangat beragam kondisi agroklimatnya yang masing-masing membutuhkan varietas yang sesuai. Varietas yang toleran cekaman lingkungan merupakan komponen penting dalam stabilitas hasil jagung. Varietas jagung hibrida yang pertama dilepas oleh Balitbangtan yaitu varietas Semar-1 pada tahun 1992 yang merupakan hibrida Silang Tiga Jalur. Sedangkan hibrida Silang Tunggal yang pertama dilepas yaitu varietas Bima-1 (tahun 2001). Hingga tahun 2016 sebanyak 39 varietas jagung hibrida telah dilepas oleh Balitbangtan yang terdiri dari 12 varietas hibrida Silang Tiga Jalur dan 27 varietas hibrida Silang Tunggal. Beberapa varietas unggul jagung hibrida yang memiliki daya hasil tinggi dan tahan hama/penyakit utama.

Di samping itu Balitbangtan juga merakit hibrida jagung khusus awal yaitu tahun 2000an dan beberapa telah dilepas varietas unggul hibrida jagung khusus (specialty corn) antara lain jagung berkualitas protein tinggi (Quality Protein Maize, QPM), jagung dengan kadar vitamin A tinggi (Beta Carotene), serta jagung pulut dengan kandungan amilopektin tinggi. (MJM/RTPH/Uje)

Bima1 dan Bima2