Berita » Perjalanan Jagung Hibrida di Indonesia

(tan/16 Peb 2018)

Jagung merupakan sumber karbohidrat selain nasi. Rasanya yang manis dan gurih membuat banyak orang yang menggemarinya. Berbagai bahan pangan dari jagung cukup populer di masyarakat dan kebutuhan akan komoditas ini terus mengalami peningkatan baik untuk kebutuhan industri pangan ataupun pakan.

Kebutuhan jagung dalam negeri meningkat 3,77% setiap tahunnya seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya industri pangan dan pakan ternak unggas. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dan dalam upaya mencapai swasembada jagung maka produktivitas harus ditingkatkan dan biaya produksi harus ditekan seefisien mungkin.

Salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas dengan biaya rendah yakni penggunaan varietas jagung hibrida. Pada tahun 2015, penggunaan jagung hibrida di Indonesia baru mencapai 56% dari total 3,79 juta ha luas panen jagung, dan sisanya petani menggunakan jagung bersari bebas dengan tingkat produktivitas yang lebih rendah dibandingkan hibrida.

Penelitian jagung hibrida di Indonesia diawali pada tahun 1950an oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. Hibrida silang puncak dan silang tunggal yang dibentuk pada tahun 1950an sampai dengan 1970an menunjukkan hasil yang sama atau lebih tinggi 20-40% dibandingkan populasi dasarnya atau varietas komposit introduksi saat itu (Varietas Perta dan Kalingga) tetapi hibrida yang dihasilkan tersebut tidak dilepas sebagai varietas.

Sejak tahun 1983 Pemerintah meningkatkan program pengembangan jagung hibrida yang didukung oleh organisasi perbenihan yang lebih baik, partisipasi perusahaan swasta, pengetahuan petani tentang budidaya jagung hibrida yang semakin tinggi, dan dukungan anggaran penelitian dan pengembangan yang lebih tinggi.

Hibrida pertama yang dilepas di Indonesia  yaitu hibrida Silang Puncak introduksi varietas C1 (dilepas tahun 1983) yang dihasilkan oleh PT Cargill dengan hasil rata-rata 5,8 ton/ha. Hibrida Silang Tiga Jalur pertama yang dilepas yaitu varietas Pioneer-1 yang dihasilkan oleh PT Pioneer dan dilepas tahun 1985 dengan hasil rata-rata 5,5 ton/ha.

Hibrida Silang Ganda pertama yang dilepas yaitu varietas Pioneer-3 yang dihasilkan oleh PT Pioneer dan dilepas tahun 1992 dengan hasil rata-rata 6,4 ton/ha. Hibrida Silang Tunggal pertama yang dilepas yaitu varietas IPB-4 yang dihasilkan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) dan dilepas tahun 1985 dengan hasil rata-rata 5,4 ton/ha.

Varietas unggul yang dihasilkan dari kegiatan pemuliaan akan berdampak pada peningkatan produktivitas, produksi dan nilai tambah usahatani jagung karena daerah produksi jagung di Indonesia sangat beragam kondisi agroklimatnya dan masing-masing membutuhkan varietas yang sesuai. Varietas yang toleran cekaman lingkungan merupakan komponen penting dalam stabilitas hasil jagung.

Varietas jagung hibrida yang pertama dilepas oleh Balitbangtan yaitu varietas Semar-1 pada tahun 1992 yang merupakan hibrida Silang Tiga Jalur. Sedangkan hibrida Silang Tunggal yang pertama dilepas yaitu varietas Bima-1 (tahun 2001).

Hingga tahun 2016 sebanyak 39 varietas jagung hibrida telah dilepas oleh Badan Litbang Pertanian yang terdiri dari 12 varietas hibrida Silang Tiga Jalur dan 27 varietas hibrida Silang Tunggal. Beberapa varietas unggul jagung hibrida yang memiliki daya hasil tinggi dan tahan hama/penyakit utama.

Di samping itu Balitbangtan juga merakit hibrida jagung khusus awal yaitu tahun 2000an dan beberapa telah dilepas varietas unggul hibrida jagung khusus (specialty corn) antara lain jagung berkualitas protein tinggi (Quality Protein Maize, QPM), jagung dengan kadar vitamin A tinggi (Beta Carotene), serta jagung pulut dengan kandungan amilopektin tinggi. (Uje)

Jagung HIbrida Bima 19