Berita » Empat Varietas Jagung Putih untuk Mendukung Diversifikasi Pangan

(tan/13 Apr 2018)

Ketahanan pangan saat ini menjadi isu penting di berbagai belahan dunia, oleh karena itu dalam menjaga ketahanan pangan, sebuah negara harus mampu mendorong masyarakatnya untuk memvariasikan bahan makanan pokok yang dikonsumsi oleh masyarakatnya sehingga tidak bergantung pada satu jenis makanan pokok saja.

Indonesia memiliki beragam hasil pertanian yang bisa difungsikan sebagai makanan pokok, salah satunya adalah komoditas pangan utama kedua setelah padi yakni jagung. Jagung dapat menjadi bahan pangan pendukung utama terhadap upaya diversifikasi pangan.

Sebagai upaya mendukung diversifikasi pangan tersebut, Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman Serealia telah merakit dan menghasilkan empat varietas Jagung Putih. Dengan warnanya yang putih mirip dengan nasi, diharapkan ke empat jagung putih tersebut dapat mensubtitusi beras atau dapat disajikan dalam bentuk nasi jagung. Ke empat varietas jagung putih tersebut adalah

Bima Putih-1
Jagung hibrida silang tunggal yang dilepas tahun 2012 adalah jagung hasil persilangan galur elit yang diperoleh dari Pusat Penelitian Jagung dan Gandum Internasional (CIMMYT) dan mempunyai kualitas protein yang lebih tinggi dibandingkan jagung putih pada umumnya.  Kandungan asam amino esensial pada Bima Putih-1 lebih besar satu setengah kali dari jagung putih yang beredar di tingkat petani.

Bima Putih-2
Dilepas sama-sama pada tahun 2012 jagung hibrida Bima Putih-2 memiliki kemiripan dengan Bima Putih-1. Namun Bima Putih-2 mempunyai kandungan asam amino esensial yang  lebih tinggi. Jagung ini dapat dijadikan bahan subtitusi beras sampai pada taraf 70%.

Anoman 
Anoman adalah jagung komposit dilepas pada tahun 2006 yang diperoleh dari hasil persilangan galur CIMMYT toleran kekeringan, Tuxpeno Sequia. Jagung ini rasanya enak dan agak pulen serta tahan terhadap kekeringan.

Srikandi Putih
Srikandi Putih merupakan jagung komposit putih pertama yang dilepas pada tahun 2004 oleh Badan Litbang Pertanian. Jagung ini didapatkan dari hasil persilangan 8 inbrida asal CIMMYT dan telah diadaptasi dengan lingkungan tropis. Endosperm biji mengandung 10,44% protein dengan persentase lisin dan triptofan dua kali lebih tinggi dari jagung pada umumnya.

Keempat varietas jagung putih yang telah dilepas dan dikembangkan oleh Badan Litbang Pertanian, membuktikan komitmen serta kerja keras para peneliti, pemulia untuk terus menghasilkan VUB bagi ketahanan pangan bangsa.(RTPH/Uje)