Berita » Mengoptimalkan Lahan Perhutani dengan Teknologi BUDENA

(tan/10 Apr 2018)

Selain padi dan jagung, kedelai juga merupakan salah satu komoditas pangan utama Indonesia yang harus dipenuhi. Kebutuhan terhadap kedelai dari tahun ke tahun terus meningkat, sedangkan produksi dalam negeri masih rendah. Produksi kedelai dalam negeri dalam setahun hanya mampu memenuhi 50% dari 2.4 juta ton total nasional.

Ada beberapa permasalahan yang menjadi produksi kedelai dalam negeri rendah yaitu semakin berkurangnya luas lahan areal tanam kedelai serta produktivitasnya rendah. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) dengan berbagai upaya terus berinovasi untuk meningkatkan produksi kedelai nasional dengan memanfaatkan lahan perkebunan atau lahan Perhutani. Hal tersebut dilakukan karena lahan subur untuk perluasan areal kedelai semakin menyempitnya, maka Balitkabi berupaya mengembangkan pertanaman kedelai di bawah tegakan tanaman perkebunan dan tanaman hutan.

BUDENA (Budi Daya Kedelai di Bawah Naungan) sistem pengembangan kedelai di bawah tegakan atau tumpangsari dengan tanaman pangan lain yang diharapkan menjadi alternatif andalan untuk meningkatkan produksi kedelai nasional yang masih sangat rendah. Dalam pengembangan ini varietas yang digunakan adalah varietas khusus yang tahan naungan.

Saat ini Pengembangan BUDENA oleh Balitkabi sedang dikembangkan di Mojokerto dengan luas areal 40 ha pada kawasan hutan kayu putih dengan menggunakan 4 VUB (Dena1, Dega 1, Anjasmoro dan Argomulyo). Pengembangan kedelai dengan sistem BUDENA tersebut diperkirakan rata-rata produktivitas per hektar mencapai 2,0 - 2,5 ton.

Adapun manfaat lain dari pengembangan kedelai dengan sistem BUDENA tersebut selain meningkatkan produksi dan menambah areal tanam kedelai, tanaman kedelai menambah kesuburan tanah akibat kerja bintil akar mengikat N dari udara. Kemudian Bintil akar kedelai teringgal di dalam tanah dan menjadi penyubur tanah. (RTPH/Uje)

Budena