Berita » Pemetaan Sebaran dan Jumlah Alat Mesin Budidaya Pangan

(mkt/11 Apr 2018)

Dalam mewujudkan swasembada pangan, pemerintah terus melakukan upaya salah satunya adalah memberikan bantuan alat mesin pertanian kepada kelompok tani, khususnya alsin produksi padi. 

Alat mesin Pertanian (Alsintan) diperlukan guna meningkatkan luas garapan dan indeks pertanaman padi. Namun demikian, bantuan alsin dirasakan masih belum tepat sasaran karena tidak akuratnya data Alsintan baik sebaran maupun jumlahnya per kabupaten. Hal ini menyebabkan kelebihan (jenuh) traktor tangan misalnya di suatu daerah dan kekurangan traktor tangan di daerah lain. Di samping itu, pemanfaatannya juga belum optimal mengakibatkan bantuan alsintan tidak efektif.

Adapun tahapan dalam menyiapkan data alsintan yang valid dan akurat serta mudah diakses oleh penggunaan Dirjen teknis terkait, Badan Litbang Pertanian melalui Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) telah melakukan kegiatan pemetaan alat mesin pertanian khususnya Alsintan budidaya pangan di beberapa sentra produksi padi pulau Jawa. Teknik survey Alsintan dan pengolahan data jumlah dan sebaran Alsintan dioleh dengan teknologi  Geographic Information System (GIS) yang berbasis Decision Support System (DSS) serta  menggunakan perangkat lunak Arc View. 

Kegiatan ini difokuskan pada 5 propinsi di Pulau Jawa, yaitu: Banten, Jabar, Jateng, Jatim, dan DIY.  Tujuan kegiatan yaitu: (1). Memetakan populasi alsin yang ada di sentra produksi padi lahan sawah (minimal pada 14 propinsi); 2). Memetakan status keberadaan alsin pada 3 kabupaten terpilih dari lima propinsi di Pulau Jawa ;3). Menyusun konsep optimalisasi pemanfaatan alsin pada 3 kabupaten terpilih dari 5 propinsi. 

Jenis Alsintan yang dipetakan populasinya adalah beberapa Alsintan yang umum digunakan, seperti  traktor tangan, mesin perontok (power thresher), pompa air, mesin pengering, dan RMU.  Sedangkan jenis Alsin dalam dipetakan status keberadaannya adalah traktor tangan dan power thresher.  Pengambilan data dilakukan secara berjenjang dari tingkat propinsi, kabupaten terpilih, dan kecamatan terpilih.

Kebutuhan Alsin ditentukan oleh faktor luas tanam, indeks penggunaan alsin, break even point (BEP) dan jumlah Alsin yang ada.  Dengan kriteria luas garapan/kapasitas kerja Alsin seperti traktor tangan (15 Jam/Ha), power thresher (500 Kg/Jam) dan pedal thresher (200 Kg/Jam), telah dibuat rekomendasi status Alsin di suatu cakupan survei sebagai yaitu traktor tangan dan thresher < 50% (sangat kurang sekali), 50–70% (sangat kurang), 70–90% (kurang), 90–100% (cukup), dan > 100% (jenuh/lebih).  Output dari kegiatan ini berupa peta status jumlah dan sebaran Alsintan per Kabupaten dari setiap provinsi sentra produksi padi.

Peta sebaran dan jumlah alsin budaya pangan per kabupaten ini diharapkan terintegrasi dengan kalender tanam (KATAM) Terpadu yang memuat informasi saprodi yaitu rekomendasi benih, pupuk, dan alsintan. Rekomendasi optimalisasi Alsintan dengan memindah Alsin dalam suatu kawasan (per Kabupaten) karena sebarannya tidak merata (sesuai kebutuhan) diharapkan akan memberi kemudahan bagi pemerintah dalam membuat kebijakan bantuan Alsintan kepada petani sekaligus rekomendasi memobilisasi Alsintan di daerah dari yang kelebihan (jenuh) Alsin ke daerah yang kekurangan Alsin, agar yang telah ada lebih optimal dan efektif. Hal ini penting untuk menghindari keterlambatan tanam dan menghemat anggaran pengadaan Alsintan yang tidak seharusnya dilakukan. (Wira)

Pemetaan Sebaran dan Jumlah Alat Mesin