Berita » Biochar-Kompos Rendah Emisi Gas Rumah Kaca

(sdl/05 Jun 2018)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) telah menghasilkan salah satu produk teknologi dengan nama Biochar-kompos atau biokompos. Biokompos adalah pupuk organik yang mengkombinasikan pupuk kandang dan arang sekam dengan perbandingan 4:1.

Bahan baku pupuk kandang adalah kotoran ternak sapi yang dipelihara di Kebun Percobaan Balingtan. Sedangkan arang atau biochar dibuat dari limbah pertanian lokal seperti limbah kayu, sekam padi, tempurung kelapa, tongkol jagung dan lainya. Beberapa limbah lainnya juga dapat dimanfaatkan untuk pembuatan arang seperti tempurung kelapa sawit dan kulit buah kakao.

Arang atau biochar dihasilkan dari proses pembakaran tidak sempurna (pirolisis) dari limbah pertanian yang bilamana dikomposkan membutuhkan jangka waktu yang panjang. Hasil temuan peneliti menunjukkan bahwa arang dapat mengurangi laju produksi N2O melalui perbaikan sifat fisika tanah (difusi, agregasi, daya pegang air), sifat kimia tanah (derajat kemasaman, hara nitrogen tersedia dari mineral dan organik, karbon organik terlarut) dan  sifat biologi tanah (jumlah mikroorganisme, aktivitas makro fauna).

Biokompos Balingtan mempunyai komposisi C-organik 14,6%; N total 1,9%; P total 1,85 dan K total 0,77% serta kadar air 13%. Kompos Balingtan sendiri telah mendapatkan sertifikasi hak paten dengan nomor IDP000044095. Hasil penelitian di Kebun Percobaan Balingtan pada skala lapang (2013-2016) menunjukkan bahwa aplikasi Biokompos dengan takaran 3 ton/ha di setiap musim tanam dapat meningkatkan hasil gabah padi sawah tadah hujan, sekaligus dapat menurunkan produksi gas rumah kaca. Aplikasi Biokompos meningkatkan hasil gabah kering panen varietas IR 64 dan Ciherang rata-rata hingga 17% dan menurunkan laju produksi metana (CH4) sebesar 4% dan laju produksi gas dinitrogen oksida (N2O) sebesar 23% dibandingkan dengan aplikasi pupuk kandang saja (Yf)

biochar