Berita » Petani Pati Terapkan Panca Kelola Ramah Lingkungan (Ramli)

(sdl/03 Jul 2018)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) telah menghasilkan komponen teknologi dari hasil-hasil penelitian sebelumnya untuk diterapkan dalam budidaya tanaman pangan berbasis kelestarian lingkungan pertanian. Komponen teknologi tersebut dikemas dengan sebutan “Panca Kelola Ramli” untuk mengelola tanaman pangan ramah lingkungan. Kelima komponen tersebut adalah penggunaan biokompos bersamaan dengan pengolahan tanah, pemupukan berimbang dengan urea berkarbon, pengaturan air irigasi, penggunaan varietas rendah emisi GRK, dan penggunaan pestisida nabati dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).

Biokompos, urea berkarbon dan pestisida nabati diproduksi sendiri oleh Kebun Percobaan Balingtan yang bahan bakunya berasal dari sumberdaya lokal yang tersedia melimpah dan  mudah diperoleh seperti limbah pertanian. Daun dan biji mimba, rimpang kunyit, biji mahoni yang dicampur dengan urine sapi diramu dan dimanfaatkan sebagai pestisida nabati. Kotoran ternak sapi dicampur dengan arang atau biochar dari sekam padi atau tongkol jagung diolah menjadi biokompos yang kaya akan nutrisi bagi tanah. Dengan sentuhan teknologi, urea yang digunakan sebagai pupuk N dilapisi dengan biochar menjadi urea berkarbon yang lambat urai sehingga lebih efisien dimanfaatkan bagi pertumbuhan tanaman.

Aplikasi biokompos di lapang dilakukan setelah olah tanah pertama dengan dosis 3 ton/hektar. Sedangkan pemupukan dilakukan sesuai jadwal yang telah ditentukan dengan dosis 200 kg urea berkarbon per hektarnya, KCl 50 kg dan Phonska sebanyak 300 kg. Penentuan kebutuhan pupuk dilakukan berdasarkan uji analisis tanah pendahuluan. Pengaturan air dilakukan agar sawah tidak selalu tergenang sekaligus untuk menghemat kebutuhan air irigasi. Varietas rendah emisi yang dipergunakan adalah inpari 33, yang menurut penelitian sebelumnya termasuk varietas yang memiliki indeks emisi medium. Aplikasi pestisida nabati dilakukan 1 minggu sekali.

Bapak Kuntari, petani di Desa Wotan, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati sangat antusias mengadopsi Panca Kelola Ramli Balingtan di lahan sawahnya seluas kurang lebih 1 ha. “Saya ingin mencoba bertani yang ramah lingkungan, mengurangi pestisida dan pupuk kimiawi, saya sangat senang sekali kalau Balingtan memberikan pendampingan kepada saya” ujar Pak Kuntari kepada Tim Diseminasi dan Kreatif Balingtan pada acara bimbingan teknis Aksi Peduli Lingkungan Pertanian yang berlangsung pada 1 Juli s.d 7 Juli 2018.

Sebelum menerapkan Panca Kelola Ramli, Petani desa Wotan mengutarakan berbagai kendala yang harus diatasi, mulai dari lahan yang ‘asem-aseman’ dimana kondisi lahan bersuhu tinggi dan banyak mengandung gas akibat sisa jerami yang tidak difermentasi yang dapat mengganggu perkembangan tanaman, hama penyakit yang menyerang tanaman seperti ulat penggerek, lalat bibit, hawar daun bakteri dan tikus. Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut para peneliti melakukan upaya penanggulangan yang ramah lingkungan antara lain penyemprotan biodekomposer untuk mengatasi ‘asem-asemen’, pemasangan feromon, pemasangan rumah burung dan pemasangan plastik pembatas untuk mengatasi hama tikus. Diharapkan segala upaya tersebut dapat menanggulangi kendala yang terjadi di lapang dan kelak tanaman padi dapat memberikan hasil panen yang maksimum.(Yf)

 

Rumah burung hantu