Berita » Menekan Impor Kentang dengan Varietas Tenggo

(pat/10 Sep 2018)

Siapa yang tidak kenal dengan tanaman kentang. Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan salah satu tanaman pangan terpenting ketiga dunia setelah beras dan gandum untuk dikonsumsi manusia.

Kebutuhan konsumsi kentang Indonesia sampai saat ini masih tergolong cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat dari jumlah impor kentang Indonesia cukup tinggi. Seperti dikutip dari data Badan Pusat Statistik (BPS), Jumat (17/3/2017), volume impor kentang di periode tersebut sebesar 10.452 ton dengan nilai US$ 4,65 juta.

Sejalan dengan pernyataan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bahwa saat ini Indonesia masih mengimpor kentang sebanyak 29 ton per tahun pada tahun 2016. Namun dia menyatakan, impor akan terus ditekan dengan cara menggenjot produksi lokal.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) menghasilkan teknologi kentang varietas Tenggo berdaya hasil 33,5 ton umbi basah per hektar dan beradaptasi baik di dataran tinggi, tinggi tanaman 90 cm, bentuk batang bulat dan berwarna hijau, bentuk daun bulat telur dengan ukuran 7 x 4,2 cm, permukaan daun licin, tidak berbulu, dan berwarna hijau.

Bentuk umbi adalah bulat, mata umbi berlekung sedang. Ukuran umbi 6–7 cm dengan bobot rata-rata 60–80 gram per umbi, warna kulit krem, tekstur daging umbi sedikit berair atau pulen (waxy). Kualitas kentang tergolong baik dengan specific grafity 1.067 gram per cc, kandungan gula reduksi 0,039°Brix dan kandungan karbohidrat 11,8%. Varietas unggul ini dapat dipanen pada umur 90–100 hari dan tahan terhadap nematode akar dan penyakit busuk daun. Varietas Tenggo potensial untuk dikembangkan untuk substitusi kentang varietas impor.(Mb)

kentang tenggo