Berita » Sekali Merengkuh Dayung, Dua Varietas GSR Sampai Ke Lahan Petani Sambas Kalimantan Barat

(pdi/03 Agu 2018)

Kabupaten Sambas Kalimantan Barat secara administratif memiliki 19 kecataman. Salah satu kecamatan yang menjadi penghasil padi terbanyak adalah Kecamatan Selakau Timur dengan luas lahan baku seluas  2.835 ha dan pada tahun 2018 kabupaten tersebut menempati posisi teratas dalam pencapaian luas tambah tanam sebesar 9.000 ha dari total target 15.000 ha.

Penanggung jawab LO di Kabupaten Sambas Dr. Yudistira Nugraha, mengakatan bahwa terdapat penambahan Luas Tambah Tanam  (LTT) sehingga produksi padi bisa terus ditingkatkan. Selain peningkatan produksi melalui perluasan luas tambah tanam, pada tahun 2018 Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) melakukan kegiatan program demfarm dilahan seluas 30 ha di Desa Gelik, Kecamatan Selakau Timur, Kabupaten Sambas. Tujuan dilaksanakan kegiatan tersebut adalah transfer hasil inovasi teknologi khususnya adopsi varietas Inpari 42 GSR dan Inpari 43 GSR kepada masyarakat petani lahan tadah hujan.

Kedua varietas tersebut dikenalkan kepada petani Kecamatan Selakau bukan tanpa alasan, kedua varietas tersebut mempunyai keunggulan tahan terhadap serangan wereng batang coklat dan blas yang menjadi kendala produksi diwilayah endemis kedua hama penyakit tersebut.

Pada beberapa musim sebelumnya petani selalu menanam berbagai varietas tetapi selalu mengalami masalah produksi akibat serangan hama wereng dan blas. Dengan hadirnya varietas Inpari 42 GSR dan Inpari 43 GSR petani menyambut baik.

Petani diwilayah Selakau, Katijo menyampaikan pengalamanya selama menanam varietas tersebut. Katijo mengatakan selama menanam Inpari 42 dan Inpari 43 banyak diuntungkan karena selain lebih tahan blas, bisa tanam padi dengan input produksi rendah dan hasil yang memuaskan. Pemupukan yang diberikan pun bisa dihemat 25% dibanding pemupukan pada tanaman padi varietas lain.

Dadang Selaku Kepala Balau Penyuluhan Pertanian (BPP) Kabupaten Selakau, melaporkan bahwa luas lahan tadah hujan pada kegiatan denfarm ini adalah 30 ha, sistem tanam yang diterapkan jajar legowo 4:1 dengan dukungan budidaya jarwo super.  Hasil panen ubinan Inpari 43 GSR sebesar 7,5 t/ha.  Dari hasil panen musim ini semuanya dijadikan benih bersertifikat dengan label ungu agar bisa dikembangkan pada musim berikutnya.

Dr. Suprihanto Kabid KSPHP BB PADI, berpesan tentang pentingnya memutus siklus hama diwilayah endemis dengan melakukan pergiliran varietas seperti yang telah dilakukan para petani Selakau Timur.  Pergiliran varietas yang telah dilakukan para petani setempat telah terbukti pertanaman aman dari serangan hama dan penyakit yang selama ini dikawatirkan petani. (Shr)

sambas