Berita » Paket Teknologi Budidaya Padi Sawah Lahan Salin

(tan/08 Nop 2018)

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki garis pantai dan wilayah pesisir (batas antara daratan dan lautan) yang luas. Zona agro-ekologi pantai tersebut rentan terhadap perubahan iklim seperti kenaikan permukaan air laut yang meningkatkan salinitas, sehingga memerlukan teknologi adaptasi dampak perubahan iklim bagi pertanian, terutama budidaya tanaman padi.

Di Indonesia, salinitas terdapat di lahan pasang surut sepanjang daerah pantai utara (pantura) Jawa, Sumatera, Kalimantan, Papua dan pulau-pulau lainnya, terdiri dari berbagai ekosistem yang dipengaruhi oleh pergerakan air pasang dengan tingkat yang bervariasi.

Lahan sawah yang kondisi drainasenya dipengaruhi oleh intrusi air laut sewaktu terjadi pasang, memiliki tingkat salinitas yang tinggi. Akibatnya, tanaman padi yang tercekam salinitas dapat terhambat pertumbuhannya.

Hal ini terjadi karena adanya perusakan sel yang sedang tumbuh, serta pembentukan tyloses yang membatasi suplai hasil-hasil metabolisme esensial bagi pertumbuhan sel. Dengan kata lain, cekaman salinitas dapat mengakibatkan penurunan produktivitas padi sawah dan merugikan masyarakat di wilayah pesisir.

Untuk menangani permasalahan tersebut, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Puslitbang Tanaman Pangan (Puslitbangtan) melaksanakan penelitian terkait perakitan paket teknologi budidaya padi sawah untuk lahan salin terdampak intrusi air laut di wilayah pesisir jalur pantura yang dilaksanakan di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kesesuaian varietas padi di lahan salin dan juga paket teknologi terbaik untuk lahan salin dengan menggunakan mikroba, pupuk organik, gipsum dan pemupukan yang tepat, sehingga nantinya perakitan paket teknologi terbaik dapat diekstrapolasi ke lokasi lain di setiap propinsi di wilayah pesisir Pulau Jawa yang memiliki karakteristik biofisik, iklim dan sosial ekonomi yang sama.

Hasil penelitian terkini menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber daya hayati endofitik mikrobia pengfiksasi N dan penghasil mikroba perakaran (Plant Growth Promoting Rhizobacteria/PGPR) sebagai biofertilizers merupakan solusi tepat meningkatkan ketersediaan hara, meningkatkan kesehatan tanah, meningkatkan pertumbuhan dan hasil berbagai tanaman serta mengurangi penggunaan pupuk anorganik sekitar 25% secara berlanjut.

Penggabungan pemanfaatan mikroba penunjang ketahanan terhadap salinitas dan pemanfaatan varietas toleran serta beberapa komponen teknologi pengelolaan hara diharapkan dapat meningkatkan kesehatan tanah dan status hara di lahan salin sehingga dapat mengoptimalkan produktivitas padi sawah di lahan salin. (YG/AWA/RTPH/Uje)

Lahan Salinitas