Berita » Teknologi IPM Balitbangtan dimanfaatkan oleh Kementerian Pertanian Fiji dan Samoa

(bun/26 Nop 2018)

Peneliti Ir. Jelfina C. Alouw, MSc. PhD, mewakili Badan Penelitian dan Pengembangan pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian untuk memberikan technical assistance dan guidance dalam pengembangan Integrated Pest Management (IPM) pada Komoditi kelapa, terutama pengendalian hama Oryctes rhinoceros yang dikenal dengan Coconut Rhino Beetle (CRB), di Fiji dan Samoa pada tanggal 19 November 2018 – 30 November 2018. Teknologi IPM CRB meliputi pengendalian dengan mempertimbangkan bioekologi hama, kelestarian lingkungan, budaya, ekonomi dan local resources. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kerjasama antara Kementerian Pertanian RI dan Kementerian Pertanian Fiji pada tanggal 9 Agustus 2017, serta permintaan The Ministry of Agriculture and Fisheries Samoa melalui International Coconut Community (ICC) pada Oktober 2018 yang lalu.

Kerjasama ini dilandasi oleh masalah munculnya strain baru hama CRB yang sudah resistan terhadap Nudi virus (OrNv) yang sebelumnya sangat efektif dalam mengendalikan hama CRB.  Guam adalah sebuah pulau di Kawasan Pasifik yang pertama kali melaporkan adanya Strain baru tersebut pada tahun 2007 sehingga namanya disebut disebut CRB-G.  Hasil analisis sequence dari Mitochondrial Citochrome oxidase l (COI) menunjukkan adanya mutasi pada CRB-G dibandingkan CRB. Dari Guam, CRB-G sudah menyebar ke negara-negara lain, seperti PNG (2009), Hawai, USA (2013),  Solomon Island, dan PNG (2015) serta Philippines dan Indonesia. 

Indonesia bersama entomologist dari The Pacific Community (SPC), melakukan diskusi dengan Kementerian Pertanian, kemudian melakukan survey lapangan untuk mengumpulkan data antara lain tingkat kerusakan, system budidaya dan ekologi sebagai landasan penyusunan strategi pencegahan masuknya CRB-G ke Fiji dan Samoa serta pengendalian CRB yang ada di beberapa lokasi perkebunan kelapa.  Workshop akan diselenggarakan pada hari selanjutnya setelah hasil analisis data di lapangan selesai. Workshop pertama direncanakan akan dihadiri oleh seluruh pemangku kepentingan kelapa di Samoa. Indonesia dan SPC dipercayakan sebagai nara sumber.  

Strategi yang dibuat diharapkan dapat diimplementasikan oleh negara-negara lain yang terancam CRB-G. Upaya pencegahan masuknya CRB-G dan pengendalian hama CRB yang menyerang sekarang ini diharapkan juga dapat melindungi koleksi kelapa unggul mereka termasuk Kelapa Genjah Unggul yang mirip Malayan Yellow Dwarf (MYD) untuk dikembangkan di Samoa maupun Negara lain.  

Kerjasama ini merupakan salah satu bentuk diseminasi inovasi teknologi Balitbangtan dan sekaligus sebagai ajang promosi produk-produk pengendalian hama ramah lingkungan yang diproduksi di Indonesia. Semoga upaya ini memberikan hasil yang diperlukan oleh masyarakat atau khususnya petani kelapa untuk memperbaiki kesejahteraan hidup petani, serta bermanfaat bagi perkembangan industri kelapa berkelanjutan.(Bur)

kelapa1