Berita » Si Manis dari Lebak Banten, Cita Rasa Nusantara yang Mendunia

(tp/23 Jan 2019)

Indonesia adalah lumbung buah tropika yang merupakan salah satu kekayaan alam yang patut dilestarikan. Saat ini, buah-buahan lokal sering dianggap kalah pamor dibanding buah-buahan impor. Nyatanya, buah yang dianggap sebelah mata di negeri sendiri itu justru dinilai berkelas dan eksotis.

Rambutan Tangkue dari Kabupaten Lebak Banten adalah salah satu dari sekian buah-buahan lokal yang diminati oleh konsumen mancanegara. Nama Tangkue berasal dari Bahasa Cina yang artinya manisan.

Rambutan Tangkue banyak dibudidayakan di Kecamatan Maja, Curugbitung, Sajira, dan rangkas Bitung. Saat panen tiba, Si Manis dari Lebak Banten ini diminati tidak hanya oleh konsumen dalam negeri, namun telah menjangkau sebagian pasar Eropa, Asia, dan Timur tengah. Sampai sekarang, ekspor terbanyak dikirim ke Kuwait, Abu Dhabi, dan Oman (Sumber: Dinas Pertanian Banten).

Sebagai salah satu varietas buah unggulan lokal, rambutan Tangkue tentu perlu dilestarikan. Salah satu UK/UPT di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Tim Sumber Daya Genetik (SDG) BPTP Banten berhasil menemukan pohon induk pertama Rambutan Tangkue di Desa Pasir Kacapi, Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak. Selain di daerah asalnya terdapat juga pohon induk turunan di Kecamatan Leuwidamar. Sebagai salah satu upaya pelestarian, TIM SDG BPTP Banten yang bertugas melakukan inventarisasi kekayaan SDG Lokal Banten memelihara Rambutan Tangkue ini di kebun koleksinya. 

Selain upaya tersebut, Rambutan Tangkue juga didaftarkannya oleh Pemda Provinsi Banten melalui BPSB-TPH ke PPVTPP sebagai rambutan lokal unggulan Banten. Sejalan dengan Pemda Provinsi Banten, Dinas Pertanian Kabupaten Lebak turut mendaftarkan varietas tersebut ke Kemenkumham agar tercatat secara geografis sebagai rambutan asal Lebak, Banten. BPTP Balitbangtan Banten mendukung upaya pendaftaran Indikasi Geografis ini untuk mengamankan plasma nutfah lokal Banten.

Buah ini memiliki ciri berwarna merah tua saat sudah masak dan terkenal dengan rasanya yang manis dan kenyal, buahnya besar dengan daging buah yang tebal, serta cenderung kering saat dimakan. Rambutan berbuah setiap tahun, dengan musim panen antara bulan November hingga bulan Februari.

Selain dikonsumsi secara langsung, rambutan dapat diolah menjadi manisan, buah dalam kaleng, serta campuran koktail. Tidak hanya rasanya yang lezat, kandungan gizi yang terdapat pada buah satu ini patut bertengger manis di meja makan. Selain vitamin C yang baik untuk kesehatan tubuh dan kecantikan, buah rambutan juga mengandung niacin, thiamin, dan riboflavin yang berperan penting dalam metanolisme tubuh.

Kandungan lain yang terdapat pada daging buah rambutan diantaranya adalah kalium, kalsium, besi, dan fosfor. Tidak hanya daging buahnya, bijinya pun ternyata dapat dimanfaatkan. Mengutip ub.ac.id, di Filipina, biji buah rambutan biasanya dipanggang dan disajikan sebagai lauk. Bahkan, kulit buahnya pun dapat digunakan sebagai obat sebagai penghambat bakteri pada tubuh manusia. (EPA)

Rambutan Tangkue