Berita » Jagung Fungsional untuk Ketahanan Pangan Nasional

(tan/01 Peb 2019)

Jagung merupakan salah satu komoditas tanaman palawija utama di Indonesia yang kegunaannya relatif luas, terutama untuk konsumsi manusia dan kebutuhan bahan pakan ternak. Pengembangan komoditas jagung di Indonesia tidak lepas dari peran pemulia jagung di Indonesia dalam merakit VUB Jagung. Selama dasawarsa terakhir peran pemulia sangat nyata dalam menyediakan varietas unggul jagung. Varietas unggul jagung yang dihasilkan telah mampu meningkatkan produktivitas hingga 10-12 t/ha untuk varietas jagung hibrida dan 7-8 t/ha untuk varietas jagung bersari bebas (non hibrida), dimana sebelumnya varietas jagung lokal hanya mampu mencapai produktivitas 2,5-4,0 t/ha.

Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitsereal) di Maros, Sulawesi Selatan memiliki empat populasi jagung fungsional yang memiliki mutu gizi khusus dalam perakitan VUB nasional yakni jagung bernutrisi protein tinggi QPM (Quality Protein Maize) dengan kandungan lisin dan triptofan tinggi, jagung beta carotene, jagung pulut dan jagung anthosianin. Jagung bernutrisi protein tinggi QPM berperan untuk menghindari penyakit busung lapar pada anak balita, jagung beta carotene diperuntukkan bagi kesehatan mata, jagung pulut dengan kandungan amilopektin tinggi, serta jagung anthosianin dengan warna biji ungu berperan sebagai anti oxidant. Menurut peneliti jagung dari Balitsereal Ir. M. Yasin HG menjelaskan bahwa jagung fungsional merupakan jenis jagung yang memiliki gizi khusus dimana memiliki beberapa keunggulan yakni kandungan nutrinya lebih tinggi mencapai 200-300% dibanding jagung normal atau jagung biasa.

Balitsereal hinggga kini telah merilis lebih dari 38 varietas unggul termasuk sejumlah varietas jagung fungsional baik bersari bebas maupun hibrida. Penyebaran jagung fungsional di tingkat petani cukup nyata karena merupakan bagian dari program kinerja Kementerian Pertanian, Program Upaya Khusus Padi, Jagung dan Kedelai (Upsus Pajale). Program pengembangan jagung fungsional selanjutnya dapat diarahkan pada daerah teridentifikasi rawan gizi. Secara menyeluruh, prioritas utama dalam pengembangan jagung ke depan membutuhkan dukungan melalui peningkatan efektivitas dan kualitas kinerja pemerintah, serta pengembangan sarana dan prasarana distribusi.(Uje)

 

jagung