Berita » Transformasi Budaya Lokal Melalui Hilirisasi Teknologi

(tp/07 Peb 2019)

Pertanian nomaden merupakan budaya turun-temurun yang kerap ditemui di wilayah pedalaman, salah satunya di Papua Barat. Pertanian berpindah yang dilakukan adalah dengan cara membuka hutan sebagai area pertanian baru. Alasan yang dikemukakan adalah karena hutan memiliki tanah yang subur. Setelah produktivitas mulai menurun, petani akan meninggalkan lahan tersebut dan membuka lahan baru.

Saat ini, pemerintah pusat khususnya Kementerian Pertanian (Kementan) dengan dukungan pemerintah daerah menganggap pentingnya menyusun strategi untuk mengoptimalkan lahan yang ada untuk meningkatkan luas tambah tanam (LTT) lahan yang dianggap berpotensi untuk produksi pangan. Selain itu, diperlukan juga upaya-upaya mengoptimalkan lahan bukaan baru agar petani mulai mengenal teknologi pertanian intensif/menetap.

Kebiasaan lahan cetak baru sekali tanam mengakibatkan kontribusi lahan cetak baru terhadap produksi pertanian daerah tidak maksimal. Pertanian menetap merupakan sebuah transformasi budaya bagi masyarakat lokal Papua Barat. Salah satu tugas Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua Barat sebagai instansi yang berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) dalam upaya pendampingan peningkatan produksi pangan melalui kegiatan strategis Kementan adalah mengidentifikasi kebutuhan inovasi teknologi dan kemudian mendampingi secara intensif dalam proses pelekasanaan di lapangan.

Pelaksanaan denfarm dan Bimtek adalah bagian dari tugas pendampingan BPTP untuk memberikan penguatan inovasi teknologi untuk mengoptimalkan lahan yang sudah tercetak. Di Manokwari Selatan, tahun 2018 luas tambahan cetak sawah baru sekitar 1000 ha, dimana 90% nya berada di wilayah adat masyarakat lokal dan sebagian besar lahannya merupakan wilayah adat masyarakat lokal yang belum berpengairan dan belum tertata sebagai sawah yang ideal.

BPTP Papua barat melaksanakan denfarm dukungan inovasi teknologi peningkatan IP pada lahan cetak baru milik petani lokal seluas 10 ha di Kampung Nyamtui, Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan. Teknologi tersebut diantaranya pendekatan pola tanam dengan mengintroduksi Jagung komposit Bisma, komponen teknologi Sistem Tanam Jarwo 4:1, dan dosis pemupukan spesifik lokasi. Kegiatan ini sangat penting karena petani koperator sama sekali belum pernah menggunakan pupuk, meskipun pada musim tanam sebelumnya mereka menanam padi gogo.

Materi bimtek pemupukan spesifik lokasi disampaikan dengan pendekatan penjelasan dan demonstrasi. Jenis pupuk yang diperkenalkan kepada petani adalah Urea, SP36 dan NPK Phonska. Karena jenis pupuk ini yang tersedia dan digunakan oleh petani.

Dengan pendekatan komunal dan intensif untuk membangun dan memotivasi petani lokal yang terlibat sebagai koperator, diharapkan dapat mengubah pola pikir petani lokal sehingga dapat mendorong trasformasi budaya petani nomaden menjadi petani menetap yang menerapkan inovasi teknologi. (EPA)

Sumber: BPTP Papua Barat

 

Suasana Bimtek (BPTP Papua Barat)