» Info Aktual » Lahan Rawa Lumbung Pangan Nasional
23 Sep 2015

JAKARTA – Lahan rawa yang selama ini dianggap kurang optimal jika digunakan untuk pertanian ternyata menyimpan potensi yang luar biasa. Seperti yang disampaikan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Dr. M. Syakir dalam konferensi pers yang mengangkat mengenai lahan rawa sebagai lumbung pangan pada musim kemarau, Rabu (23/9/2015).

Kondisi pada musim kemarau sendiri mengakibatkan lahan sawah irigasi maupun tadah hujan menjadi kurang produktif karena kesulitan mendapat air. Di sisi lain kondisi di musim kemarau mengakibatkan lama dan tinggi genangan pada lahan rawa khususnya rawa lebak semakin turun sehingga dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian tanaman pangan.

Dalam kesempatan itu Kepala Badan mengatakan bahwa peluang peningkatan luas tanam di lahan rawa pada saat musim kemarau adalah pada lahan rawa lebak yang tersebar antara lain di propinsi Sumatera Selatan, Riau, Lampung dan Kalimantan Selatan.

“Total luas lahan rawa yang dapat dimanfaatkan pada kondisi musim kemarau mencapai 801,9 ribu hektar, atau meningkat sekitar 237,7 ribu hektar dari kondisi normal,” ujar Kepala Badan.

Potensi kontribusi lahan rawa terhadap produksi beras nasional sekitar 14% atau 6-8 juta ton gabah kering giling dengan tingkat produktivitas 4 ton/ha GKG. Lahan rawa sendiri memiliki beberapa keunggulan, selain sumber air yang tersedia juga lebih tahan terhadap perubahan iklim, bahkan beras yang dihasilkan dari padi rawa mempunyai kadar indeks glikemik rendah sehingga baik untuk kesehatan.

“April-September langganan musim kemarau di Indonesia. Akibatnya, terganggu suplai pada Juli, Agustus, September. Pada masa itu bisa terkompensasi dari memaksimalkan lahan rawa. Minggu depan akan panen 540 hektar di Kalimantan Selatan,” tambah Kepala Badan.

Balitbangtan sendiri telah siap untuk mengembangkan lahan rawa sebagai lumbung pangan nasional masa depan melalui dukungan teknologi inovasi yang telah dihasilkan antara lain varietas unggul padi lahan rawa tahan salinitas seperti Inpara, Martapura dan Banyuasin, teknologi pupuk hayati, serta teknologi konservasi air tabat limpas yang merupakan pengembangan dari kearifan lokal masyarakat Bugis.

Berita Terkait :