» Info Aktual » Balitbangtan Serahkan Royalti ke Peneliti
18 Nov 2015

JAKARTA – Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) kemarin, (17/11/2015) menyerahkan royalti ke peneliti lingkup Balitbangtan.

Royalti diberikan kepada para peneliti yang hasil penelitiannya telah mendapatkan paten serta dikerjasamakan dengan dunia usaha. Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 72 tahun 2015 tentang Imbalan Yang Berasal Dari Penerimaan Negara Bukan Pajak Royalti Paten.

Pada kesempatan ini, yang mendapat royalty adalah tujuh paten yang terdiri dari produk pupuk, pestisida nabati, beras glikemik rendah, Indo Jarwo Transplanter, Mini Combine Harvester dan Alat Perekam Data Stasiun Cuaca Otomatis/ AWS. 

Sampai saat ini ada 139 inovasi Balitbangtan yang telah dikerjasamakan dengan dunia usaha, dari jumlah tersebut sebanyak 64 merupakan inovasi yang berupa paten. 

Penyampaian royalti oleh Kepala Balitbangtan Dr. Muhammad Syakir, diharapkan dapat makin merangsang minat peneliti untuk lebih banyak lagi menghasilkan paten dalam kegiatan penelitiannya.

Paten ini akan mejamin adanya unsur kebaruan dari teknologi yang dihasilkan peneliti, dan membuka peluang kerjasama dengan dunia usaha dalam diseminasinya.

Kerjasama Balitbangtan dengan dunia usaha dalam Alih Teknologi sejalan dengan semangat Undang Undang No 18 Tahun 2002 Tentang Sistem Nasional Litbangrap IPTEK serta Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005 Tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual Hasil Litbang oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian.

Dalam bekerjasama dengan dunia usaha, prinsip dasar yang dipegang oleh Balitbangtan adalah dunia usaha akan membantu Balitbangtan dalam menyampaikan inovasi Balitbangtan kepada pengguna akhir atau end user. Sehingga, kriteria pemilihan mitra dunia usaha berdasarkan kapasitas dan kemampuan mereka menjangkau pengguna akhir.  

Ke depan dengan semakin beragamnya produk inovasi Balitbangtan, maka diharapkan kerjasama dengan dunia usaha semakin berkembang untuk dapat menjangkau pengguna akhir yang juga makin beragam.

Pembagian royalti saat ini masih terbatas untuk peneliti yang memiliki paten, sementara untuk HKI lainnya seperti PVT, Cipta, rahasia dagang dan lainnya masih dalam proses di Kementerian Keuangan.