» Info Aktual » Lalat Tentara Hitam Agen Biokonversi Sampah Organik Berprotein Tinggi
30 Mar 2016

Sekilas tidak ada yang menarik dari lalat Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam. Tubuhnya yang berwarna hitam dan bagian segmen basal abdomennya yang transparan mengesankan lalat ini menyerupai tawon.

Beberapa hasil riset melaporkan bahwa kandungan protein larva BSF relatif tinggi, yaitu 40 – 50% dengan kandungan lemak berkisar 29 - 32%. Kandung nutrisi yang tinggi ini berpotensi untuk dikembangkan menjadi bahan campuran formula pakan ayam atau ikan. Terlebih lagi, media perkembangbiakan larva yang berupa bahan-bahan organik yang telah membusuk menjadikan larva ini mudah sekali dibudidaya.

Sebagai agen biokonversi, larva BSF mampu mengurangi limbah organik hingga 56%. Dengan meletakkan telur BSF atau larva BSF maka limbah organik seperti bungkil inti sawit (BIS), kotoran sapi, kotoran babi, kotoran ayam, limbah pasar, limbah rumah tangga, sampah buah, sayur dan lainnya akan diurai menjadi produk-produk yang bermanfaat bagi para petani peternak.

Setidaknya ada tiga produk yang dapat diperoleh dengan memberdayakan larva BSF sebagai agen biokonversi. Produk pertama adalah larva atau prepupa BSF yang dapat dijadikan sebagai sumber protein alternatif untuk pakan ternak, produk kedua adalah cairan hasil aktivitas larva yang berfungsi sebagai pupuk cair dan yang ketiga adalah sisa limbah organik kering yang dapat dijadikan sebagai pupuk.

Hasil analisis kandungan nutrisi tepung BSF sangat menjanjikan dan terbukti memiliki kandungan nutrisi yang mirip dengan tepung ikan. Penggunaan tepung BSF pada campuran pakan ayam broiler hingga 100% tidak menimbulkan efek negatif kecernaan bahan kering (57,96 – 60,42%), energi (62,03 – 64,77%) dan protein (64,59 – 75,32%), walaupun hasil yang terbaik diperoleh dari penggunaan BSF 25% atau 11,25% dalam pakan.

Penggunaan tepung larva BSF hingga 50% juga dilaporkan mampu meningkatkan tingkat konsumsi pakan burung puyuh dengan berat telur berkisar 9,25 – 10,12 g, termasuk meningkatkan poduksi telur sampai 3,39%.

Penggantian tepung ikan dengan tepung larva BSF sebanyak 75% dan 100% menghasilkan tingkat konsumsi pakan dan berat telur yang tidak berbeda nyata dengan kelompok kontrol. Penggantian tepung ikan dengan 50% tepung BSF pada pakan ayam pedaging mampu meningkatkan performa ayam yang siap panen dan lebih ekonomis.

Pemanfaatan lalat BSF sebagai agen biokonversi sekaligus penyedia sumber protein alternatif memiliki beberapa keuntungan. Lalat BSF bukan merupakan vektor penyakit, sehingga tidak menyebarkan penyakit seperti lalat rumah Musca domestica atau lalat hijau. Menariknya, lalat ini mampu mengurangi populasi lalat rumah M. domestica dengan cara mengeluarkan sinyal kimia dilingkungan sekitarnya untuk mencegah lalat rumah bertelur didaerah tersebut.

Disamping itu, ekstrak etanol larva BSF juga bersifat antibakteri untuk bakteri gram positif, seperti Klebsiella pneumonia, Neisseria gonorrhoeae dan Shigella sonnei, tetapi  tidak efektif untuk bakteri gram positif, seperti Bacillus subtilis, Streptococcus mutans dan Sarcina lutea. .

Laporan lain juga menyebutkan bahwa larva BSF mampu menurunkan populasi Salmonella spp hingga 6 log10 pada feses manusia selama 8 hari, termasuk menurunkan populasi Erechia coli O157:H7 dan Salmonella enterica serovar Enteritidis pada kotoran unggas dan E. coli pada kotoran sapi perah. Studi terbaru juga menunjukkan bahwa larva ini bersifat antivirus pada golongan enterovirus dan adenovirus serta menurunkan populasi telur cacing Ascaris suum.

Melihat banyaknya keuntungan dari larva BSF, maka perlu dipikirkan teknik budidayanya yang praktis dan aplikatif sehingga para peternak dapat mengembangbiakan lalat ini dengan memanfaatkan limbah rumah tangga, limbah kandang atau limbah pasar di sekitar rumahnya.

Setidaknya, permasalahan sampah organik disekitar kita dapat diselesaikan dengan agen biokonversi lalat BSF untuk menghasilkan produk lain yang lebih bermanfaat dan memiliki nilai ekonomis. Secara tidak langsung, dengan menggunakan tepung BSF maka biaya pengadaan pakan dalam produksi ternak dapat ditekan tanpa harus mengurangi kualitas dan kuantitas atau performa produk ternak.

Informasi lebih lanjut : Balai Besar Penelitian Veteriner