» Info Aktual » Teknologi Jajar Legowo Super untuk Mendongkrak Produktivitas Padi
20 Apr 2016

Teknologi Jajar Legowo Super, merupakan implementasi terpadu teknologi budidaya padi dengan lima komponen teknologi pelengkap, hasil inovasi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan).

Jarwo atau jajar legowo sudah lama dikenal di kalangan petani, yang merupakan cara bertanam padi dengan jarak 2:1 atau 4:1. Pada jarwo super dilengkapi dengan pemanfaatan varietas unggul baru (VUB) padi dengan potensi hasil tinggi. VUB seperti Inpari 30, Inpari 32, serta Inpari 33.

Komponen lainnya yakni penggunaan biodekomposer, yang merupakan bahan yang mengandung beberapa jenis mikroba perombak bahan organik seperti lignoselulosa.  Biodekomposer mampu mempercepat pengomposan jerami secara insitu dari dua bulan menjadi 1-2 minggu.

Hasil aplikasi Biodekomposer mempercepat perombakan jerami dan mengubah residu organik menjadi bahan organik tanah, meningkatkan ketersediaan NPK, sehingga menekan biaya pemupukan, dan menekan penyakit tular tanah.

Penggunaan pupuk hayati dan pemupukan berimbang berdasarkan PUTS (perangkat uji tanah sawah) juga menjadi komponen pada jarwo super. Pupuk hayati adalah pupuk berbasis gabungan mikroba mikroba non patogenik yang dapat menghasilkan fitohormon (pemacu tumbuh tanaman), penambat Nitrogen dan pelarut Fosfat yang berfungsi meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah.

Selanjutnya, terdapat komponen pengendalian organisme pengganggu tanaman dengan pestisida nabati dan anorganik, serta pemanfaatan alat mesin pertanian khususnya transplanter dan combine harvester.

Berdasarkan hasil panen ubinan yang dilakukan oleh Tim terpadu BPS Indramayu, Peneliti Balitbangtan, Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian Indramayu, UPTD Kecamatan Bangodua, TNI dari Koramil Bangodua, dan beberapa Gapoktan di Indramayu, diperoleh produktivitas Gabah Kering Panen (GKP) di (demo area) dem-area seluas 50 ha.

Varietas Inpari 30 Ciherang Sub-1 sebesar 13,9 t/ha; Varietas Inpari 32 HDB sebesar 14,4 t/ha; dan Varietas Inpari 33 sebesar 12,4 t/ha, sedangkan rata-rata produktivitas pertanaman petani di luar dem-area dengan varietas Ciherang adalah 7,0 t/ha.

Petani yang menerapkan paket teknologi ini secara penuh bisa mendapatkan produksi sekitar 10 ton Gabah Kering Giling (GKG)/ha per musim tanam dengan kata lain ada delta penambahan produksi sebesar 4 ton GKG/ha per musim tanam dibandingkan dengan rata-rata produksi Jajar Legowo biasa yanga terapkan di sawah irigasi sebesar 6 ton/ha/musim.

Pengembangan Inovasi Teknologi ini guna mengantisipasi menyusutnya lahan pertanian, sementara permintaan terus meningkat. Bila inovasi teknologi Jajar Legowo Super ini dikembangkan di 20% dari total lahan pertanian irigasi saja, maka dapat menyumbang kenaikan produksi 3,84 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) pertahun.

Informasi Terkait :


Dokumen Terkait :