» Info Aktual » Bagaimana mengendalikan hama Boleng pada Ubi Jalar?
11 Jan 2017

Pernahkan anda menjumpai satu atau dua noda pada ubi jalar rebus dan saat ubi tersebut anda makan akan terasa pahit? Artinya ubi jalar tersebut terkena hama Boleng (Cylas formicarius).

Ubi tersebut tidak layak ketika dikonsumsi manusia maupun hewan yang disebabkan oleh jaringan umbi yang terserang menghasilkan senyawa terpin yang baunya tidak sedap dan terasa pahit. Selanjutnya kerusakan akan lebih parah pada saat umbi dilakukan penyimpanan.

Hama ini disebabkan oleh kumbang penggerek yang sering memakan atau merusak daun, batang dan umbi dengan cara membuat lubang. Selain kumbang yang dewasa (imago) larvanya juga menggerek  dan memakan batang dan umbi yang dicirikan dengan adanya kotoran yang ditimbun di sekitar lubang gerakan dan mengeluarkan bau yang khas dan tak sedap. Bagaimana mengendalikannya ?

Hama yang dapat merusak umbi sejak umbi masih di kebun hingga di tempat penyimpanan ini, biasanya mudah menyebar pada saat musim kemarau, mampu menurunkan hasil berkisar antara 10-80%. Hama ini hampir terdapat di seluruh pertanaman ubi jalar di Amerika, Afrika, Asia Selatan, Asia Timur, Asia Tenggara, dan kepulauan Pasifik. Di Indonesia, hama ini terdapat di semua daerah penghasil ubi jalar.

Untuk mengenalinya, bila disekitar kebun umbi terlihat kumbang dewasa berukuran panjang 5-7 mm, ramping, halus, punggung keras, moncong panjang, dan tumpul. Kepala, sayap depan dan perut berwarna biru metalik. Kaki dan rongga dada cokelat kemerahan. Kumbang betina dan jantan dibedakan dari bentuk antena dan ukuran tubuh.

Ujung antena kumbang betina berbentuk gada, sedangkan yang jantan berbentuk benang. Biasanya ukuran tubuh kumbang betina lebih besar dari Kumbang jantan. Iklim yang panas dan kering sangat cocok untuk perkembangbiakannya. Suhu optimal 27-30oC. Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam waktu 33 hari. Kumbang betina dapat hidup antara 75-105 hari dan seekor betina dapat bertelur antara 100-250 butir.

Pengendalian hama dengan melakukan rotasi tanaman dengan tanaman bukan inang akan memutus siklus kumbang disamping melakkan sanitasi lahan yaitu dengan membersihkan dari sisa-sisa umbi atau batang yang terserang.  Untuk penanaman disarankan dengan penggunaan stek pucuk karena biasanya telur hama oleng diletakkan pada umbi atau batang yang dekat dengan permukaan tanah. Perlu dilakukan pengairan secara rutin agar tanah disekitar pertanaman tidak retak sehingga memudahkan kumbang masuk ke dalam tanah.

Melalui cara menaikan guludan akan mendapatkan hasil yang baik bila dilakukan tepat waktu yaitu sebelum kumbang muncul dan bertelur, disamping melakukan panen lebih awal 1-2 minggu dari masa panen yang ditentukan. Penyemprotan  dengan insektisida permetrin, karbofuran dan karbosulfan bila populasi hama telah melampau nilai ambang kendali.

Sumber : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi