» Info Aktual » Kerja Sama Pengembangan Mikropropagasi Tanaman Perkebunan dengan PNG dan Fiji
18 Jan 2019

BOGOR - Menjajaki peluang kerjasama mikropropagasi pengembangan kelapa dan tanaman perkebunan lainnya untuk peningkatan produksi dan mutu tanaman serta produksi metabolit sekunder. Telah berkunjung  H.E. Peter Vincent (Duta Besar Papua New Guinea untuk Malaysia), Isaac Grace (Duta Besar Fiji untuk Indonesia), Alan Aku (Acting Managing Director, Kokonas Indastri Koperesen) (KIK), PNG), Chris N. Nagaya (General Manager, KIK), Uron N. Salum (Executive Director of International Coconut Community), Miridula Kottekate (Assistant Director of ICC) dan Alit Firmansah (Market Development Officer of ICC) ke kantor Puslitbangbun (16/01/2018).

Kunjungan diterima oleh Ir. Jelfina C. Alouw, MSc, PhD, Kepala Bidang Kerja Sama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian (KSPHP) Puslitbang Perkebunan bersama Tim ini saat memberi sambutan menyampaikan apresiasi atas kunjungan para diplomat negara Pasifik dan Tim ICC. Ia berharap agar teknologi dan inovasi yang telah dihasilkan oleh Balitbangtan khususnya Puslitbang Perkebunan, dapat diadopsi dan dikaji terlebih dahulu sesuai kondisi ekonomi, agroklimat dan sosial budaya masyarakat setempat.

“Perbanyakan tanaman kelapa dan tanaman lain melalui biji, belum menghasilkan keturunan yang sama dengan tetuanya.  Oleh karena keragaman hasilnya, maka perbayakan melalui biji bermanfaat untuk tujuan pemuliaan dan kurang cocok untuk perbanyakan massal”, ungkap Dr. Sri Suhesti, peneliti Kultur Jaringan. Oleh sebab itu, tanaman yang berasal dari hasil mikropropagasi seperti kultur jaringan bisa menjadi pilihan yang tepat karena menghasilkan kualitas tanaman seperti yang diharapkan dan juga lebih efisien, tambah Dri Sri. 

Koordinasi dengan ICC dengan para pakar dibutuhkan di kedua negara sesuai aturan yang berlaku dan kesepakatan oleh kedua belah pihak. H.E. Peter Vincent, Duta Besar PNG untuk Malaysia mengharapkan ada kerjasama antara Papua New Guinea dan Indonesia dalam pengembangan kelapa dan tanaman perkebunan lainnya melalui mikropropagasi. Disamping itu, perlu juga dilakukan capacity building program untuk peningkatan kompetensi teknisi, baik di pemerintahan maupun swasta, ungkapnya. Apresiasi yang sama juga disampaikan oleh Mr. Isaac Grace, Duta besar Fiji untuk Indonesia, terkait kontribusi terhadap capacity building untuk personil di Taveuni Research Centre dan Koronivia Research Station yang telah dilakukan tahun 2018 atas koordinasi ICC.

Kerjasama ini merupakan tindak lanjut MoU yang telah ditandatangani oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia dan Menteri Pertanian Fiji. Rekomendasi hasil kunjungan ke Fiji terkait penerapan IPM dalam pengendalian hama utama kelapa diharapkan dapat ditindaklanjuti oleh Pemerintah Fiji.

“komoditas perkebunan yang diperbanyak saat ini selain kelapa adalah tebu dan kelapa sawit serta tanaman pertanian lainnya”, Ujar Kepala Puslitbang Perkebunan Dr. Fadjry Djufry . Uron N. Salun, Executive Director of ICC juga menekankan pentingnya mikropropagasi untuk memenuhi kebutuhan benih kelapa unggul dan bermutu baik dalam jumlah besar dan waktu relatif singkat serta dapat didistribusikan dengan mudah.  Melalui inovasi ini diharapkan diperoleh peningkatan produksi selain juga kesejahteraan petani, ungkap Alouw saat menutup kunjungan.(Bur/Rjs)