» Info Aktual » Baroma, Padi Tipe Basmati Asli Indonesia
05 Peb 2019

Kebaradaan beras Basmati dikalangan masyarakat menengah keatas semakin hari semakin populer, sehingga permintaan beras khusus semakin meningkat.  Beras tipe Basmati yang selama ini tersedia hanya bisa tumbuh di bagian utara India dan Pakistan, sehingga pemenuhan beras tersebut masih impor dan harganya di Indonesia relatif mahal.

Untuk mengatasi hal diatas, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) berhasil merakit varietas padi khusus tipe Basmati. Perakitan padi unggul beras Basmati telah dilakukan selama 10 tahun sejak tahun 2007 dengan menggunakan plasma nutfah yang ada dan  telah menghasilkan sejumlah rekombinasi persilangan yang potensial menghasilkan galur-galur harapan dengan hasil setara atau lebih tinggi dari padi tipe Basmati.

Kepala BB Padi Dr. Priatna Sasmita dalam keterangannya menjelaskan bahwa beberapa galur yang diusulkan pada sidang penilaian  varietas tanaman pangan salah satunya adalah varietas tipe Basmati yang merupakan hasil persilangan antara  tetua varietas/galur asal Indonesia dengan Basmati asal Pakistan. Prosedur perakitan/pemuliaan menggunakan metode seleksi Pedigree, Bulk, dan seleksi silang berulang. Hasil persilangan tersebut menghasilkan berbagai galur dan dua  diantaranya merupakan galur harapan yang mempunyai sifat agronomis seperti Basmati namun bisa berdaptasi bagus pada ekosistem di Indonesia dengan potensi hasil tinggi.

“Beras basmati selama ini dikenal sebagai beras aromatik asal India yang memiliki tekstur khas dan hanya bisa dibudidayakan di dataran tinggi, namun demikian, Alhamdulillah kita telah dapat melakukan terobosan bisa merakit varietas baru dengan tipe beras basmati yang dapat ditanam di dataran rendah, tanpa menghilangkan ciri khas  tipe basmati,  yaitu beras agak pera dan kurannya lebih panjang (1,5-2,0 kali) dibandingkan beras pada umumnya. Harapannya varietas dengan tipe beras tersebut bisa dikembangkan di Indonesia, dapat memenuhi kebutuhan pasar yang semakin meningkat”,   terang Priatna di sela-sela sidang pelapasan varietas di Hotel Salak, Bogor, Selasa (22/01/2019).

Sementara itu dalam kesempatan yang sama Priatna menambahkan “Keungulan lain beras tipe basmati hasil rakitan BB Padi adalah potensi hasil bisa mencapai 9,1 t/ha, mempunyai index glikemik yang relative rendah dengan tekstur tidak pulen tapi mempunyai aroma harum yang khas dan  memiliki kadar amylose cukup tinggi sekitar 26%”,  tambahnya.

Ditempat yang sama Pemulia Dr. Heni Safitri dan Dr. Buang Abdullah turut memberi keterangan usai mempresentasikan galur hasil uji multilokasi perakitan padi tipe Basmati. Ia menerangkan bahwa perakitan varietas padi merupakan rangkaian kegiatan yang berkelanjutan dari pencarian tetua sumber sifat yang dikehendaki, perkombinasian sifat melalui persilangan, seleksi tanaman dan galur, uji daya hasil dan uji multilokasi serta penyediaan benih sumber untuk pengembangan varietas yang dihasilkan. Apa bila salah satu rangkaian tersebut terputus atau tidak dilakukan maka akan menyebabkan terhambat bahkan gagalnya tujuan.

“Sejak tahun 2017 Balai Besar Peneltian Tanaman Padi telah melakukan uji multilokasi terhadap galur-galur padi tipe Basmati di 17 lokasi di Indonesia dan pada hari ini disidangkan di hadapan tim peniliai pelepasan varietas, galur yang kami usulkan untuk dilepas menjadi varietas unggul baru”,  jelas Heni

Sidang penilaian pelepasan varietas tanaman pangan 2019 yang dilaksanakan di Hotel Salak, Bogor, Selasa (22/1) bersama-sama dengan Tim Penilai Pelapasan Varietas (TP2V) Tanaman Pangan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian.

Selain menyebutkan enam galur yang diajukan ke tim penilai, Ia menyebebutkan juga tujuan perakitan varietas yang diusulkan untuk dilepas mejadi varietas tersebut. 

tujuan perakitan varietas yang diusulkan adalah menghasilkan varietas yang tahan hama atau penyakit dan menghasilkan beras premium/bermutu baik. Sementara itu, galur-galur yang kami usulkan meliputi 2 galur tipe Basmati, galur padi merah aromatik dan padi merah biasa, galur beras hitam dan galur beras ketan putih.

galur padi B13727C-MR-2-5-1-3 merupakan galur padi tipe Basmati, galur  B13727C-MR-2-4-4-7-1 juga merupakan galur padi tipe Basmati, galur B13840E-MR-39-2-3-1 merupakan galur padi beras merah aromatic,  galur B12344-3D-PN-37-6 merupakan galur padi beras merah, galur 13486D-4-1-PN-2-MR-3-3-3 merupakan galur padi beras hitam,  dan galur B13486D-4-1-PN-2-MR-3-1-11 yang merupakan galur padi ketan putih.

Satu kegiatan pemuliaan padi di BB Padi adalah perakitan varietas unggul dengan kualitas beras premium dan dengan sifat-sifat khusus, seperti beras tipe Basmati, beras merah, beras merah aromatik, beras hitam, dan beras ketan. Calon varietas B13727C-MR-2-4-4-7-1 juga merupakan galur padi tipe Basmati dengan rata-rata hasil GKG 6,015,96 ton/ha dan potensi hasil 9,1 ton/ha, lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Basmati. Galur ini juga mempunyai penampilan lebih pendek dibanding Basmati dengan batang tanaman lebih besar. Amilosa galur ini 25,55% dengan tekstur nasi pera dan pemanjangan nasi setelah proses pemasakan sebesar 1,5 kali. Ketahanan galur ini terhadap hama dan penyakit lebih baik jika dibandingkan dengan Basmati. Galur ini agak tahan WBC biotipe 1, tahan HDB kelompok IV dan VIII dan tahan blas ras 173.

Saat ini, penelitian terhadap varietas Basmati telah berhasil dan dapat ditanam di dataran rendah, tanpa menghilangkan ciri khas ukuran beras basmati  yang lebih panjang dibandingkan beras pada umumnya.

 “Jika galur basmati lulus, maka penemuan varietas basmati asli Indonesia ini adalah sesuatu yang spesial dan unik, serta memiliki potensi ekspor yang besar. Ini semakin membuktikan beras kita sangat layak ekspor”, ungkap Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro saat berkunjung ke BB Padi, Sukamandi, sepekan sebelum pelaksanaan sidang pelepasan, Rabu (16/01/2019).

Bahkan bila dibandingkan beras basmati asal negara aslinya, produktivitas varietas yang dihasilkan oleh BB Padi ini jauh lebih tinggi. Produktivitas varietas Basmati hasil rakitan BB Padi mencapai 8,4 ton per hektare, sementara varietas basmati asli hanya sekitar 5-6 ton per hektare. “Dengan spesifikasi ini, kita bisa melampaui produksi basmati di India,” tambah Syukur.

Sesuai dengan keterangan yang diberikan Kepala BB Padi Priatna Sasmita, pengembangan varietas basmati di Indonesia ini membutuhkan waktu kurang lebih 10 tahun. Ketika awalnya benih dibawa langsung dari Pakistan dan diuji coba di kebun percobaan BB Padi, benih tersebut tidak bisa dibudidayakan karena tidak adaptif dengan lahan di Indonesia.

Varietas yang akan dinamai BAROMA atau Beras Basmati Aromatik, disebut Syukur, sudah menarik minat para investor, termasuk dari kawasan Timur Tengah.

BB Padi mempunyai peranan penting dalam memunculkan inovasi baik varietas unggul baru (VUB), maupun teknologi budidaya untuk terus meningkatkan produksi. Dengan lulusnya 5 galur menjadi varietas menambah koleksi varietas unggul yang telah dilepas Kementerain Pertanian. Langkah selanjutnya BB Padi akan segera mengembangkan benih sumber dan tahun depan akan dikembangkan beras skala komersial. (Shr)