» Info Aktual » FGD untuk Posisi Indonesia pada Sidang GB-8 ITPGRFA
13 Agu 2019

Jakarta – Indonesia dihadapkan pada posisi untuk menerima atau menolak resolusi tentang Kajian Teknis Amandemen Multilateral Sistem (MLS) dan Revisi Standard Material Transfer Agreement (SMTA) ITPGRFA. Resolusi dimaksud terkait dengan kesediaan Indonesia untuk memberikan akses terhadap sumber daya genetik Indonesia.  

Forum group discussion dilaksanakan di Kantor Pusat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Senin (12/8/2019), untuk menyamakan suara dan mencapai kesepatakan apa yang menjadi keputusan Indonesia.

Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry pada arahan saat pembukaan FGD menyerukan agar forum ini dapat menghasilkan kesepakatan atas apa yang akan menjadi keputusan Indonesia. Apakah Indonesia menerima, atau menolak resolusi harus disepakati.

Sekretaris Balitbangtan Muhammad Prama Yufdy menambahkan bahwa secara implisit forum ini menyatakan pentingnya posisi Indonesia untuk menyepakati posisinya jangan sampai implikasi negatif nanti menjadi beban generasi mendatang.

Kepala Balai Besar Biogen Mastur mengungkap konsekuensi yang ada bagi Indonesia bila memutuskan menerima resolusi tersebut. Menurutnya, perlu ratifikasi melalui DPR dan kemungkinan dilakukan deklarasi atas pengecualian-pengecualian yang disertai alasan misal terkait Hukum, sosial budaya, atau lainnya.

Sedangkan jika menolak, perlu disusun alasan nasional, dan jalan panjang sidang yang selama ini sudah diikuti menjadi tidak bermanfaat.

Yayu wakil dari Puslit Biologi LIPI menyatakan pentingnya melakukan kajiaan atas dua konsekuensi tersebut sambil menyusun pengecualian. Demikian pula Roni Megawanto, Direktur Program KEHATI mengungkap bahwa KEHATI bersedia mendukung dari sisi Kajian kebijakan.

Menyuarakan kesepakatan ini juga penting disampaikan Dalam working group regional Asia yang akan dilaksanakan pada 8-10 Oktober mendatang di India.