» Info Aktual » Kementan Gelar Panen Perdana Padi di Demfarm Serasi
07 Nov 2019

Batola – Kementerian Pertanian (Kementan) panen perdana padi di Demfarm program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi) di Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Rabu (6/11/2019).

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Fadjry Djufry mengungkapkan sejak peringatan Hari Pangan Sedunia pada 2018, Balitbangtan dengan seluruh jajaran Kementan telah membuat demfarm yang cukup luas untuk memberikan contoh bahwa lahan rawa yang ada di Kalimantan Selatan dan di beberapa provinsi bisa dimanfaatkan.

“Dari 34,1 juta lahan rawa yang ada di Indonesia meliputi lahan pasang surut dan lahan rawa lebak yang sangat potensial untuk dikembangkan,” tutur Fadjry.

Menurut Fadjry, di Pulau Kalimantan ada kurang lebih 10 juta hektare lahan rawa yang sangat potensial untuk dikembangkan. Potensi tersebut ini meliputi lahan rawa lebak kurang lebih 7 juta hektare serta lahan rawa pasang surut  2,9 juta hektare.

“Pengelolaan Lahan rawa lebak ini sebenarnya teknologinya tidak terlalu berat,  karena tanahnya termasuk subur. Tinggal bagaimana mengatur pengelolaan airnya melalui pintu-pintu air atau tabat. Beberapa hasil penelitian yang sudah dilakukan Balitbangtan, lahan rawa ini sangat potensial dengan menghasilkan 7 ton sampai 8 ton per hektare untuk tanaman padi,” terangnya.

Sementara untuk lahan pasang surut yang ada di Kalimantan Selatan terbagi tiga tipe yaitu lahan pasang surut tipe A, dan sebagaian besar merupakan tipe B serta tipe C.

“Tinggal bagaimana menata lahan dan penataan air. kita sudah mencontohkan beberapa tahun terakhir bagaimana pengolahan yang yang baik,” lanjutnya.

Areal Demfarm Serasi di Desa Jejangkit Muara ini merupakan implementasi seluruh paket teknologi terpadu hasil Balitbangtan, terutama terkait dengan teknologi budidaya padi yang dipadukan dengan budidaya hortikultura, budidaya itik, dan budidaya ikan, serta sistem kelembagaannya.

Budidaya padi menggunakan Teknologi Panca Kelola Lahan Rawa yang dikemas dalam paket Teknologi Raisa (Rawa Intensif, Super, dan Aktual), meliputi teknologi pengelolaan air, penyiapan dan penataan lahan, ameliorasi dan pemupukan, varietas unggul, pengendalian organisme pengganggu tanaman terpadu, dan ditunjang penggunaan alat dan mesin pertanian.

“Sasaran utama pengembangan Demfarm Serasi adalah percepatan dan efektivitas adopsi teknologi oleh petani dalam upaya meningkatkan produksi pertanian dan kesejahteraan petani di lahan rawa,” ungkap Fadjry.

Kegiatan panen di Demfarm memberi harapan bahwa lahan rawa bisa dioptimalkan. Hal ini sesuai harapan Presiden Joko Widodo untuk membangunkan raksasa tidur yaitu lahan rawa seluas lebih kurang 34 juta hektare. Fadjry berharap panen perdana ini mampu memberikan teladan terbaik implementasi inovasi teknologi pada stakeholder untuk pengembangan rawa mendukung ketahanan pangan nasional dan menuju Lumbung Pangan Dunia 2045.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP) Kementan Sarwo Edhy, menerangkan bahwa optimalisasi lahan rawa ini bertujuan untuk meningkatkan indeks pertanaman dari satu kali setahun menjadi dua kali setahun bahkan ada yang tiga kali. Di samping meningkatkan indeks pertanaman, juga untuk meningkatkan produktivitas padi melalui sentuhan teknologi.

“Banyak benih padi unggul hasil penelitian Badan Litbang Kementan yang produktivitasnya tinggi,” terangnya.

Pada kesempatan panen perdana tersebut, Kementan juga menyerahkan secara simbolis Perangkat Uji Tanah Rawa (PUTR) sebanyak 25 Unit dan Bibit Jeruk Siam Banjar sebanyak 5.000 pohon kepada perwakilan peserta.

Selain itu dilaksanakan juga Bimbingan Teknis (Bimtek) di lokasi demfarm dengan materi pengenalan inovasi teknologi pengelolaan lahan rawa yang diikuti 250 petani dan penyuluh. Materi Bimtek meliputi pengenalan varietas padi adaptif lahan rawa, budidaya itik, budidaya ikan, budidaya tanaman jeruk, dan operasionalisasi PUTR.