» Info Aktual » Hasil Panen Padi di Demfarm Serasi Sangat Menjanjikan
08 Nov 2019

Batola – Kementerian Pertanian (Kementan) saat ini sedang melaksanakan program strategis optimalisasi lahan rawa untuk pertanian melalui Program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi).  Program ini merupakan upaya Kementan untuk mengatasi penyusutan lahan baku sawah dan peningkatan kebutuhan pangan.

“Program Serasi merupakan program optimalisasi pengelolaan lahan rawa pasang surut/lebak melalui penerapan pertanian korporasi berbasis inovasi pertanian,” terang Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Fadjry Djufry.

“Hal yang paling penting, selain inovasi teknologi adalah wujud dan watak dari korporasi itu sendiri, mulai kelembagaan maupun sistem produksi atau usaha taninya serta sistem korporasi agribisnisnya,” ujar Fadjry ditemui di Panen Perdana Padi di Demfarm Program Serasi di Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan (Kalsel) pada Rabu (6/11/2019).

Lebih lanjut disampaikan, “Semuanya tentu diwujudkan dalam konteks pengembangan kawasan, karena lahan rawa pada umumnya merupakan hamparan luas dan hampir homogen dengan penduduk yang relatif terbatas dibanding lahan sawah irigasi.”

Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Besar Penelitan dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) Husnain menuturkan, “ Tugas Badan Litbang Pertanian dalam mendukung Program Serasi diimplementasikan melalui kegiatan demfarm, superimpose dan pengembangan kelembagan korporasi, serta bimbingan dan pendampingan teknis.”

Kegiatan demfarm dan superimpose meliputi pengelolaan lahan dan air untuk pengembangan sistem usaha pertanian, pengembangan budidaya padi, pengembangan budidaya sayuran, pengembangan budidaya itik dan ikan, penerapan mekanisasi pra dan pasca panen, dan  penguatan kelembagaan petani dan pengembangan pertanian korporasi.

Husnain lebih lanjut menerangkan bahwa sebagian lahan pertanian ini sudah dipanen 28 Oktober 2019 dengan hasil 6,4 ton-7,9 ton/ha GKP (gabah kering panen). Hasil ini sangat menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dibandingkan pertanian konvensional yang hasilnya 1,5 ton -3 ton/ha GKP.

Selain padi, dijelaskan bahwa di lokasi tersebut petani juga bisa melakukan budidaya itik yang hasilnya untuk 1.000 ekor itik yang dipelihara selama setahun bisa mendapatkan keuntungan kurang lebih 70 juta per tahun. Serta, budidaya ikan yang bisa menambah pendapatan petani sekitar 6 juta setahun.

Melihat hasil yang menjanjikan, menurut Husnain, tantangan ke depan adalah bagaimana mengimplementasikan teknologi pengolahan lahan rawa ke lahan yang lebih luas.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (THP) Provinsi Kalsel Syamsir Rahman menyampaikan bahwa sektor pertanian khususnya tanaman padi menjadi sektor yang layak untuk diunggulkan di Kalsel, terlebih sekarang pemerintah melalui Kementan telah mengembangkan Program Serasi.

Syamsir menerangkan bahwa Kalsel mendapat jatah pengembangan Program Serasi seluas 120 ribu hektare, khususnya di Barito Kuala hampir 60 ribu hektare. Pelaksanaan program Serasi di Kalsel tahun 2019 melibatkan tiga kabupaten utama yaitu Barito Kuala, Banjar, dan Tanah Laut. Serta kabupaten penyangga yaitu Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara, Balongan, Tabalong, dan Hulu Sungai Tengah.

“Program Serasi sangat membantu bagi petani-petani di Kalsel, yang tadinya hanya satu kali tanam menjadi dua kali tanam bahkan sudah ada yang sampai 3 kali tanam di Kabupaten Barito Kuala,” lanjutnya.                          

Menurut Syamsir, Provinsi Kalimantan Selatan merupakan salah satu provinsi penyangga beras nasional diurutan ke-10. Kalsel juga akan menjadi wilayah penyangga ibukota, jika ibukota pindah ke Kalimantan. Karena itu, pihaknya berharap dukungan dari Kementan untuk pengembangan pertanian modern berbasis teknologi khususnya untuk lahan rawa.