» Info Aktual » Balitbangtan Bersama PERHIMPI Siapkan Teknologi Untuk Dinamika Iklim Mendatang
16 Mei 2020

Bogor – Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) bersama Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (PERHIMPI) belum lama ini menyelenggarakan Webinar dengan tema ‘Dinamika Iklim dan Stabilitas Pangan Saat Pandemi COVID-19’. Webinar ini terselenggara atas kerjasama Balitbangtan, PERHIMPI, BMKG, IPB dan Lapan.

Dalam sambutannya Kepala Balitbangtan Dr. Fadjry Djufry menyampaikan sesuai dengan tematik yang diusung oleh PERHIMPI bahwa kondisi ketahanan pangan di masa Pandemi covid 19 seperti sekarang ini aspek iklim sangat menentukan karena beberapa bulan yang akan datang negara ini akan memasuki musim kemarau. Menurut FAO diperkirakan ada 11 negara yang mengalami krisis pangan setelah pandemi COVID-19 ini.

Oleh karena itu, warning dari FAO ini menjadi kewaspadaan bagi kita semua agar mengantisipasi krisis pangan tersebut. Untuk itu perlu upaya memanfaatkan peluang yang masih ada terutama upaya meminimalisir cekaman lingkungan akibat iklim untuk menghasilkan produk pangan secara berkelanjutan.

Diantaranya memanfaatkan lahan rawa lebak, lahan rawa pasang surut dan lahan gambut sebagai lahan potensial untuk pengembangan komoditas pertanian. Potensi lahan tersebut benyabar dibeberapa Provinsi seperti Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Selatan.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Dr. Haris Syahbuddin, DEA selaku Sekretaris Jenderal PERHIMPI menyampaikan paparannya yang berjudul ‘Iklim MK 2020 dan Strategi Pangan Dalam Bayang-Bayang COVID-19’. Dalam paparannya disampaikan prediksi MK 2020 lebih basah dari MK 2019, namun ada sekitar 30% masuk Peta Zona Musim (ZOM) yang mengalami kamarau lebih kering dari normalnya.

Oleh karena itu, perlu langkah strategis untuk mengantisipasi kekeringan pada MK II 2020. Salah satunya adalah pemanfaatan penampung air seperti bendungan, embung, long storage, dam parit, pompa, sistem irigasi dan sumber air lainnya dan tentunya penggunaan VUB toleran kekeringan.

Selain pemanfaatan penampungan air, lebih lanjut Haris memaparkan potensi varietas komoditas tanaman pangan yang toleran terhadap kekeringan yang dianjurkan untuk ditanam pada saat musim kemarau. Untuk komoditas padi ada 9 varietas dengan agroekosistem lahan masam, naungan dan dataran tinggi. Untuk komoditas jagung dan sorgum ada 15 varietas yang dianjurkan, sedangkan aneka kacang dan umbi ada 28 varietas yang terdiri dari komoditas kedelai, ubi jalar dan ubi kayu.

Intinya mengelola sumbardaya iklim dan VUB secara tepat dan bijaksana untuk menghasilkan produk pertanian dalam menjamin ketahanan pangan negeri dimasa pandemic covid 19. Sebagai informasi, Kementan saat ini tengah gencar mendorong petani memanfaatkan lahan rawa melalui program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi) yang telah berjalan sejak Desember 2018.

Dengan target 400.000 hektar (ha), Kementan tengah fokus pada tiga provinsi (Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan). Lahan rawa di tiga provinsi sudah bisa dimanfaatkan oleh petani. Memang tampaknya akan sulit, namun dengan adanya inovasi teknologi Balitbangtan, bertani di lahan rawa adalah sebuah keniscayaan.

Acara ini diikuti kurang lebih lebih 500 peserta yang terdiri dari para pengurus cabang PERHIMPI, peneliti, dosen, praktisi dan pemerhati iklim, pertanian dan lingkungan dari Sabang sampai Merauke. (Uje)