» Info Aktual » Menurunkan Kehilangan Hasil, Minat terhadap Kedelai DETAP-1 Meningkat
09 Jun 2020

Bogor – Musim kemarau yang mulai memasuki wilayah Indonesia sejak April lalu, meskipun telah diprediksi kemarau akan terjadi hingga akhir Juli/Agustus 2020, tidak selalu memberikan dampak negatif terhadap pertanian. Petani bisa menyiasatinya dengan menanam tanaman pertanian lainnya salah satunya dengan menanam kedelai.

Seperti yang terjadi di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat yang mengakibatkan akhir-akhir ini permintaan benih kedelai mengalami peningkatan cukup tinggi. Tingginya permintaan benih kedelai cukup dirasakan oleh salah satu produsen benih kedelai dari Bima yakni Pak Burhan yang telah menjadi penangkar benih kedelai sejak tahun 2019. Benih dimaksud adalah kedelai varietas Detap-1.

Kedelai Detap-1 keluaran Kementerian Pertanian hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) menurut Burhan adalah kedelai yang diharapkan oleh petani karena hasilnya berbiji besar serta berumur genjah. Selain berbiji besar kelebihan lainnya dari varietas ini tahan pecah polong dan provitasnya cukup tinggi dan bisa mencapai 2,9 t/ha.

Kepala Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) Dr. Yuliantoro Baliadi mengungkapkan bahwa Detap-1 memang telah banyak diketahui oleh petani karena keunggulannya. Disebutkan bahwa karena keunggulannya itu, para produsen benih kedelai antara lain Sidodadi dari Bantul, Bina Sri Lestari dari Karawang, Gemah Ripah 1 dari Bandung dan produsen benih Ndeno Kara dari Bima juga mengalami peningkatan pesanan atas varietas tersebut.

Yuliantoro berharap peningkatan tersebut dapat dijadikan momentum untuk pengembangan kedelai ke depan. “Fenomena  ini tentunya menjadi momentum yang baik bagi pengembangan komoditas kedelai kedepannya, sehingga menarik para produsen benih kedelai yang baru dan bertambahnya produsen benih baru,” harapnya.

Di tempat terpisah, Kepala Balitbangtan Dr. Fadjry Djufry menyampaikan bahwa perlu ada edukasi bagi para petani terhadap varietas-varietas unggul Balitbangtan yang sudah dilepas. Salah satunya adalah pengetahuan terhadap kedelai varietas Detap-1 yang tahan terhadap pecah polong. Selain produksi tinggi juga bisa mengamankan terhadap kehilangan hasil akibat banyaknya biji kedelai yang terpapar di lapang.

“Dengan adanya varietas Detap-1 ini, ke depan tidak terdengar lagi ada petani kedelai merugi yang disebabkan oleh produktivitas rendah serta kehilangan hasil,” ujar Fadjry.  

Plt. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) Dr. Haris Syahbuddin menambahkan, dengan adanya kedelai varietas Detap-1 ini dapat menjawab tantangan petani kedelai. Selama ini petani kedelai mengeluhkan rendahnya produktivitas kedelai lokal, selain itu banyak juga yang mengalami  kehilangan hasil saat panen.

“Dengan berbagai keunggulannya, berharap banyak petani kedelai yang beralih ke varietas Detap-1 dan meninggalkan varietas lama yang kurang produktif,” ucapnya.

Sebagai informasi, varietas Detap-1 adalah kedelai yang dilepas oleh Kementerian Pertanian pada tahun 2017 dengan asal seleksi dari persilangan G 511 H dengan varietas Anjasmoro. Sifatnya mirip dengan kedelai varietas Anjasmoro yaitu tahan pecah polong menjadi daya tarik sendiri di kalangan petani karena banyak yang mengira Detap-1 adalah varietas Anjasmoro.

Sebagai pendatang baru tentu varietas Detap-1 memiliki keunggulan dari tetuanya yaitu berumur genjah (singkat) yakni 78 hari dan berbiji besar. Untuk potensi hasilnya juga tinggi yang bisa mencapai 3,50 t/ha dengan rata-rata hasil 2,7 t/ha.

Selain itu, untuk ketahanan terhadap hamanya varietas Detap-1 tahan terhadap penyakit karat daun, peka penyakit virus SMV, tahan hama pengisap polong, agak tahan hama penggerek polong, dan peka hama ulat grayak. (Uje)

Informasi lebih lanjut: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan