» Info Aktual » Poktan Massengereng II Produksi Benih Padi Inpari 36 dengan Hasil 9,6 t/ha
28 Sep 2020

Sulsel - Kelompok Tani Massengereng II, Desa Lompulle, Kecamatan Ganra, Kabupaten Soppeng, panen perdana benih padi varietas Inpari 36, Sabtu (26/9/2020). Hasil panen dengan produktivitas 9,6 t/ha lebih tinggi 2,2 t/ha dari varietas yang biasa digunakan oleh petani. Petani sebelumnya menggunakan varietas Mekongga dengan hasil tinggi 7,4 t/ha.

Kegiatan panen ini merupakan rangkaian akhir dari kegiatan pendampingan oleh Loka Penelitian Penyakit Tungro (Lolittungro) sejak bulan Juni 2020. Kegiatan pendampingan ini adalah untuk mengatasi masalah para petani di Desa Lompulle, Kecamatan Ganra, Kabupaten Soppeng terkait dengan ketersediaan benih bersertifikat saat awal musim tanam.

Dalam sambutannya Dr. Fausiah T. Ladja menyampaikan bahwa tujuan kegiatan pendampingan ini untuk mewujudkan desa mandiri benih. Sehingga petani di Desa Lompulle, Kecamatan Ganra, Kabupaten Soppeng tidak lagi kesulitan untuk mendapatkan benih padi bersertifikat untuk musim tanam.

“Berkat pendampingan ini, petani sudah bisa memproduksi benih sendiri, selanjutnya petani di Desa Lompulle, Kecamatan Ganra, Kabupaten Soppeng sudah bisa dikatakan mandiri dalam mengatasi ketersediaan benih. Benih tersebut bisa didaftarkan di BPSB setempat untuk sertifikasi benih, selanjutnya benih padi bisa juga dijual untuk umum karena karena sudah memiliki sertifkat benih,” ujar Fausiah.

Selanjutnya Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perikanan dan Ketahanan Pangan yang diwakili oleh Kepala Bidang Tanaman Pangan, Suhardiman, SP,. MMA menyampaikan ucapan terima kasih kepada Balitbangtan, Kementerian Pertanian khsusunya Lolittungro yang telah melaksanakan kegiatan pendampingan desa mandiri benih kepada kelompok tani Massengereng II, Desa Lompulle, Kecamatan Ganra.

“Berharap kegiatan ini dapat terus dilaksankan ke desa lainnya di wilayah Kabupetan Soppeng, sehingga ketersediaan benih bersertifikat tersedia sepanjang musim tanam,” harapnya.

Menurut Agus Salim, salah seorang petani yang menjadi peserta pada kegiatan pendampingan mengaku puas atas hasil Inpari 36 yang lebih tinggi dari varietas yang biasa digunakan.

“Varietas Inpari 36 umur tanamannya lebih lama, tapi bukan suatu masalah karena hasilnya cukup tinggi dan tahan terhadap  penyakit tungro, untuk musim tanam berikutnya akan tanam kembali dengan menggunakan varietas Inpari 36,” ujar Agus.

Sementara, pada kesempata lain, Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry juga menyampaikan bahwa pembinaan dan pemberdayaan petani melalui kelompok tani menjadi Desa Mandiri Benih (DMB) perlu terus dikembangkan.

“Meningkatnya pengetahuan petani untuk produksi benih, maka akan lahirlah petani yang menjadi penangkar handal sehingga mampu menyediakan benih unggul bersertifikat secara mandiri di tingkat desa atau wilayahnya,” tutupnya. (Uje)