» Info Teknologi » Bawang Merah Sembrani Tahan Uji di Lahan Gambut
13 Jan 2014

Bicara lahan untuk produksi bawang merah, yang terlintas di benak petani dan kita yang menggeluti pertanian adalah lahan subur. Namun, anggapan tersebut terbantah dengan panen bawang merah hasil uji adaptasi varietas unggul di lahan gambut Desa Kereng Bengkirai, Kecamatan Sabangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis, 9 Januari 2014.  

Dilakukan uji beberapa varietas bawang merah di lokasi ini, salah satunya  adalah varietas Sembrani. Hasil menunjukkan pertumbuhan yang baik, tetap tegar dan toleran terhadap iklim basah, kendati minggu-minggu terakhir ini hujan mengguyur Palangka Raya.   

Varietas Sembrani memberikan hasil paling tinggi yakni sekitar 18,7 ton umbi basah per hektar, walaupun masih di bawah potensi hasilnya yaitu 23 ton/ha di lahan subur. Setelah Sembrani, varietas Maja Cipanas menghasilkan 7,3 ton dari potensi 12 ton, Bima Brebes 7,2 ton dari potensi 16 ton dan Trisula 6,7 ton dari potensi 23 ton/ha.

Slamet Riyadi, petani yang merawat selama uji adaptasi varietas, langsung jatuh cinta pada Sembrani, demikian juga Kelompok Tani dari beberapa kabupaten yang diundang pada acara panen dan temu lapang. Mereka melamar dan meminta benih Sembrani untuk ditangkarkan di kelompoknya.

Sembrani memiliki performa yang baik di lahan gambut, maka keinginan petani mendapat sambutan langsung dari Direktur Jenderal Hortikultura yang hadir pada acara tersebut. Pengembangan bawang merah tahun ini 35 ha di Palangka Raya, dan empat kabupaten lain masing-masing 20 hektar. 

Tindaklanjut untuk mendukung pengembangan bawang merah di Kalimantan Terngah ini juga dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia dengan ditandatanganinya naskah kesepahaman antara Kantor Perwakilan BI dengan SKPD di Kalimantan Tengah pada acara panen dan temu lapang tersebut.

Kebersamaan berbagai instansi di Palangka Raya ini telah menunjukkan dan memotivasi petani untuk mandiri sekaligus upaya mengatasi fluktuasi harga bawang merah yang bahkan pernah tercatat sebagai pemicu inflasi.

Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura