» Info Teknologi » Bimbingan Teknis Penggerak Produktivitas Sektor Pemerintah
09 Agu 2005

Departemen Pertanian mengirimkan 3 (tiga) peserta Bimbingan Teknis (Bimtek) Penggerak Produktivitas Sektor Pemerintah yang diselenggarakan pada tanggal 1-9 Agustus di Badan Pelatihan dan Produktivitas, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Tiga peserta tersebut terdiri dari unsur-unsur : 1) kepegawaian (diwakili dari Biro Kepegawaian), 2) pendidikan dan pelatihan (diwakili dari Badan Pengembangan SDM Pertanian), dan 3) penelitian dan pengembangan (diwakili staf Sekretariat Badan Litbang Pertanian).

Kegiatan Bimtek Penggerak Produktivitas Sektor Pemerintah diikuti oleh 180 peserta terdiri dari para Pejabat Eselon III atau yang mewakili dari 60 instansi Departemen/Kementrian dan Lembaga. Bimtek Penggerak Produktivitas dilandasi atas pertimbangan bahwa menurut hasil laporan Competitiveness Year Book yang diterbitkan Asian Productivity Organization (APO), dari 60 negara yang diteliti, tingkat daya saing Indonesia berada pada urutan ke 49. Untuk itu perlu segera dilaksanakan gerakan nasional peningkatan produktivitas melalui komitmen bersama dalam pengembangan SDM sehingga lebih profesional dalam melaksanakan tugas pokoknya.

Pelaksanaan Bimtek Penggerak Produktivitas ditempuh melalui dua tahap, yaitu : i) pemahaman konsep Integrated Productivity Improvement (hari pertama); dan ii) Implementasi 5 S sebagai “perangkat dasar” terbentuknya peningkatan produktivitas (hari kedua). Bimtek Penggerak Produktivitas Sektor Pemerintah yang dirancang, sebenarnya diharapkan untuk mencapai dua hal: 1) Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan Penggerak Produktivitas ke arah peningkatan kualitas dan produktivitas SDM aparatur sektor pemerintah; dan 2) Meningkatnya kesadaran aparatur akan arti pentingnya mutu dan produktivitas dalam mewujudkan pelayanan prima kepada masyarakat.

Setelah mengikuti kegiatan dimaksud peserta diharapkan mampu menyusun rencana implementasi 5S dan berperan sebagai focal point bagi gerakan peningkatan produktivitas, dengan sasaran akhir akan bermuara pada terbentuknya unit-unit Klinik Produktivitas di setiap instansi sebagai kristalisasi dari kesadaran dan komitmen bersama gerakan peningkatan produktivitas. 5S adalah sebuah istilah yang diadopsi dari bahasa Jepang yang terdiri dari S1 = Seiri (Sisih); S2 = Seiton (Susun); S3 = Seiso (Sasap); S4 = Seiketsu (Sosoh); dan S5 = Shitsuke (Suluh). 5S tidak lain sebagai konsep Penatalaksanaan Rumah Tangga “Good Housekeeping”, sebuah konsep kegiatan yang terintegrasi antara pelaksanaan kerja, kondisi kerja, dan perbaikan budaya kerja yang berkelanjutan. Di Indonesia, istilah 5S diterjemahkan sebagai : Sisih, Menyisihkan barang-barang yang tidak diperlukan di tempat kerja; Susun, Menata barang yang diperlukan supaya mudah ditemukan oleh siapa saja bila diperlukan; Sasap, Membersihkan tempat kerja dengan teratur sehingga bersih baik lantai, meja, dan sarana yang digunakan; Sosoh, Memelihara penatalaksanaan rumahtangga yang baik dan organisasi tempat kerja setiap saat; dan Suluh, Membentuk kebiasaan untuk mematuhi dan disiplin dalam pengurusan rumah tangga yang baik atas kesadaran sendiri.

Implikasi kegiatan Bimtek bagi peserta sebagai bagian sebuah organisasi adalah memulai penerapan 5S dari diri sendiri, unit kerja terkecil, dan menyebarkannya kepada lingkungan sekitarnya sehingga tercipta lingkungan kerja yang teratur, bersih, nyaman, dan menyenangkan. 5S merupakan salah satu instrumen dasar peningkatan produktivitas yang perlu dibudidayakan sebagai pembiasaan bagi setiap aparatur pemerintah, sehingga membantu dan berkontribusi terhadap peningkatan kinerja dalam meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat pengguna.

Berkaitan hal tersebut, untuk mewujudkan kondisi kerja yang mendukung pelayanan prima kepada masyarakat pengguna, penerapan 5S mulai dihidupkan di lingkungan Sekretariat Badan Litbang Pertanian, dengan diawali sebagai kegiatan yang dilombakan pada perayaan Hari Kemerdekaan RI, dan akan diteruskan untuk dikompetisikan secara periodik sehingga diharapkan rangkaian 5S akan membentuk pembiasaan perilaku dalam budaya kerja setiap aparatur pemerintah (termasuk seluruh karyawan dan karyawati Sekretariat Badan Litbang).