» Info Teknologi » Potensi Swasembada Daging Sapi, Balitbangtan Dampingi Peternak Probolinggo
11 Mar 2019

Dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia, Vietnam, dan Filipina, kebutuhan daging sapi rata-rata penduduk di Indonesia tergolong rendah, sebesar 2,56 kg per kapita per tahun. Meskipun demikian, Tingginya jumlah penduduk di Indonesia merupakan lahan potensial bagi pemasaran berbagai produk pertanian, termasuk produk yang berasal dari usaha peternakan sapi potong.

Beberapa tahun terakhir, produksi daging sapi lokal belum mampu mencukupi kebutuhan daging nasional. Tahun 2019, prediksi kebutuhan daging sapi yang bisa dipenuhi sekitar 62,5% dari daging sapi  di dalam negeri. Sisanya dipenuhi dari impor. Fakta ini memperlihatkan potensi usaha peternakan sapi potong yang masih sangat terbuka untuk dikembangkan di Indonesia.

Hal ini menjadi perhatian Kementerian Pertanian (Kementan) dalam program strategis beberapa tahun ke depan. Pada tahun anggaran 2019, Balitbangtan melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur mendapat mandat kegiatan pengkajian terpadu manajemen pemeliharaan ternak sapi potong. Guna memenuhi kebutuhan dalam negeri dan mencapai swasembada protein hewani daging sapi, dibutuhkan percepatan peningkatan populasi sapi serta penggemukan sapi dengan teknologi yang tepat. Selain itu, organisasi peternak sangat diperlukan sebagai peningkatan skala ekonomi dan kelembagaan peternak.

Kegiatan Tim Pengkaji dari BPTP Jawa Timur yang dimotori oleh Dr. Setiasih ini berlokasi di Desa Ranuwurung, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo. Pada hari Senin (25/02/2019), Tim Pengkaji melakukan Baseline Survey Sapi Potong. Tujuan pengkajian adalah untuk mengetahui kondisi eksisting peternakan sehingga bisa diterapkan paket teknologi pemeliharaan (penggemukan) sapi yang dapat meningkatkan pendapatan peternak.

Kajian pemeliharaan sapi potong ini mencakup teknologi pakan, kesehatan hewan, pengolahan limbah peternakan, dan sosial ekonomi peternakan. Baseline survey diakhiri dengan kunjungan ke kandang calon peternak kooperator untuk mengetahui kesiapan pemilihan ternak yg akan digunakan dalam kajian.

Ketua kelompok tani Bumi Ayu dan  Syakur menerangkan bahwa mayoritas peternak sapi potong di Probolinggo memelihara sapi persilangan Limousine karena cepatnya pertumbuhan bobot badan. Selain itu, jenis sapi ini disukai pedagang.

Berdasarkan pengakuan para peternak, selama ini mereka belum menggunakan konsentrat dan belum memahami cara menghitung formula pakan yang tepat untuk kebutuhan pakan sapinya. Ini merupakan kesempatan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) untuk menginisiasi teknologi tepat guna bagi para peternak di Probolinggo. Selain itu, berpotensi juga introduksi teknologi terkait pemanfaatan feses dan urine sapi untuk pupuk organik. (EPA)