» Info Teknologi » Potensi Pengembangan Biodiesel Sebagai Bahan Bakar Alternatif
10 Apr 2019

Pemerintah saat ini sedang menggalakkan bahan bakar minyak non fosil dari bahan bakar nabati (BBN) terutama dari kelapa sawit untuk menghasilkan Biodisel. Biodiesel adalah bioenergi atau bahan bakar nabati yang dibuat dari minyak nabati, turunan tumbuh-tumbuhan yang banyak tumbuh di Indonesia seperti kelapa sawit, kelapa, kemiri, jarak pagar, nyamplung, kapok, kacang tanah dan masih banyak lagi tumbuh-tumbuhan yang dapat meproduksi Bahan Minyak Nabati (BBN) dan dalam penelitian ini bahan bakar berasal dari nabati yang setelah mengalami beberapa proses seperti ektraksi, transesterifikasi diperoleh metil ester (biodiesel), kemudian biodiesel dicampur dengan bahan bakar solar.

Hasil campuran itu disebut B10,B20 dengan tujuan agar bahan bakar B10, B20 ini mempunyai sifat-sifat fisis mendekatai sifat-sifat fisis solar sehingga B10, B20 dapat digunakan sebagai pengganti solar. Bahkan sekarang pemerintah mampu memproduksi biodiesel B100.

Biodiesel B100 adalah bahan bakar nabati (BBN) biofuel untuk aplikasi mesin motor diesel berupa Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang dihasilkan dari bahan baku hayati dan biomassa lainnya yang diproses secara esterifikasi.

Secara teknis biodiesel dapat digunakan untuk semua mesin diesel tanpa modifikasi, termasuk tanki, truk pengangkut, dan pompanya. Biodiesel dapat digunakan murni (100%) atau sebagai campuran minyak solar sesuai tingkat kandungannya. Seperti B10 untuk campuran 10% biodiesel, B5 untuk yang 5% dan seterusnya. Biodiesel dapat lebih berfungsi sebagai pelumas daripada minyak solar, sehingga suara dan getaran mesin dapat lebih halus. Dampaknya umur mesin dapat lebih panjang. Pengalaman menunjukkan penggunaan biodiesel dapat meningkatkan jarak tempuh.

Dari sudut lingkungan penggunaan biodiesel dapat mengurangi efek rumah kaca karena kandungan oksigen yang lebih tinggi daripada solar sehingga pembakaran lebih sempurna. Gas rumah kaca seperti karbon monooksida yang memiliki efek rumah kaca tinggi, dapat diminimumkan. Pembakaran juga lebih baik karena fungsi pelumasan biodiesel yang lebih baik. Selain itu karena biodiesel dihasilkan dari tanaman (penyerap CO2), maka neraca karbon dengan adanya pembakaran (emisi CO2) seimbang dengan penyerapannya.

Upaya pemerintah dalam menyediakan energi alternatif tersebut dihadapkan pada realita nasional yaitu adanya penurunan produksi sebagai akibat dari usia sawit yang sudah sangat tua di atas 25 tahun terutama sawit rakyat yang waktunya dilakukan peremajaan secara masal dalam upaya ketersediaan bahan baku. Program replanting (peremajaan) sawit rakyat belum maksimal berjalan  karena terkendala soal legalitas dan status lahan petani.

Data dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit terkait perkembangan program replanting rakyat, menunjukkan bahwa replanting realisasi peremajaan sampai bulan Juli 2018 baru mencapai 10 ribu hektar dan anggaran yang disalurkan untuk kegiatan peremajaan sekitar Rp 265 miliar. Upaya repanting menghadapi kendala utama yaitu persoalan legalitas lahan.

Harapannya program replanting segera diselesaikan pada tahun 2019, sehingga ketersediaan bahan baku biodiesel dapat terpenuhi untuk beberapa tahun ke depan dengan mempertimbangkan tingkat pendapatan petani dengan adanya program replanting. Pemerintah harus bekerja keras dan berupaya untuk menciptakan sumber-sumber pendapatan baru petani menjelang kelapa sawit produktif. (Sae/Aw/Bur/Rjs)