» Info Teknologi » Balitbangtan Dukung Swasembada Gula dengan Mesin Panen Tebu Tipe Ridding
11 Apr 2019

Kegiatan panen tebu di Indonesia umumnya masih dilakukan secara manual menggunakan parang. Cara panen ini selain kapasitas kerjanya rendah yaitu sekitar 40 HOK/ha, juga menyisakan tunggul tebu terbuang setinggi 10 – 20 cm dan dibiarkan sebagai susut hasil yang mencapai 5%. Padahal kadar gula tertinggi berada pada bagian batang tebu tersebut dibanding bagian atasnya. Mengingat luasnya areal kebun tebu dan semakin terbatasnya tenaga kerja, kegiatan panen tebu hanya mungkin dilakukan dengan mekanisasi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dan guna mendukung swasembada gula, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) telah merekayasa prototipe mesin panen tebu tipe riding dengan penguatan komponen lokal (local content). 

Usaha untuk meningkatkan produksi gula juga telah dilaksanakan dengan menginvestasikan peralatan yang mempunyai efisiensi kinerja tinggi baik di lapang maupun di pabrik.  Kegiatan budidaya tebu terdiri dari pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan tanaman, dan pemanenan. Efektivitas penggunaan alsin pada lahan kering peluangnya sangat besar dibandingkan pada lahan sawah.  Walaupun demikian, penggunaan alsin dalam budidaya tebu mendapat kendala, diantaranya tidak sesuainya ukuran alsin dengan kondisi pengoperasian di lahan, suku cadang yang tersedia sangat terbatas dan pengelolaannya belum baik. Untuk mendukung program Kementerian Pertanian dalam mencapai swasembada gula.

Kriteria desain prototipe mesin panen tebu tipe riding yang dikembangkan adalah sebagai berikut yaitu 1). Prototipe pemanen dirancang tipe ridding dan berporos ganda (4 WD) untuk satu baris tanam tebu dengan jarak PKP 135-150 cm; 2). Prototipe pemanen tebu merupakan self propelled machine dengan engine penggerak diesel  yang sesuai untuk  mesin pertanian (rpm rendah  dan torsi tinggi); 3). Dilengkap dengan bagian pemotong pucuk sehingga tebu yang akan dipotong sudah bersih dari daun; 4). Mampu mengarahkan rumpun tebu, memotong batang tebu rata tanah (tidak pecah) serta merebahkan hasil potongan ke samping unit mesin, sehingga tidak terlindas roda penggerak. 

Mekanisme kerja mesin yang dirancang adalah mesin panen tebu tipe riding bergerak maju searah baris tanaman tebu dengan kecepatan 1,80-2,25 km/jam. Posisi roda penggerak berada di antara baris tanaman , sedangkan posisi konveyor dan pisau berada pada tengah rumpun tebu. Pisau potong atas yang berada dibagian terdepan akan memotong pucuk daun tebu pada putaran 400-500 rpm. Selanjutnya sudu konveyor pengarah akan berputar 100 – 120 rpm dan  menarik rumpun batang tebu sekaligus menjepit batang tebu menuju posisi pisau pemotong. Pada saat batang tebu telah mencapai titik potong, putaran pisau (500-750 rpm) akan memotong bagian bawah batang tebu (0-5 cm diatas tanah). Setelah terpotong, batang tebu tersebut akan dibawa ke kanan oleh konveyor pembawa dan direbahkan ke lahan. 

Mesin pemanen tebu tipe riding ini mempunyai dimensi 5650x2370 x 2345 mm, dengan bobot 2740 kg, mempunyai kapasitas kerja 5,2 jam/ha, lebar potongan 600-800 mm, serta dengan kecepatan maju 1,80-2,25 km/jam. Mesin ini menggunakan tenaga penggerak diesel 4 silinder (29,4 kW/2400 rpm), system transmisi hidrolik, belt, dan rantai sprocket. 

Hasil uji kinerja mesin panen tebu tipe riding di lahan BBP Mektan menunjukkan bahwa mekanisme pemotongan pucuk, konveyor dan potong bawah batang tebu telah menunjukkan hasil kerja baik. Unit pisau pemotong telah dapat memotong pucuk dan rumpun batang tebu dengan hasil tidak pecah. Diharapkan penggunaan mesin pemanen tebu tipe riding tersebut mampu memberikan manfaat untuk mendukung peningkatan hasil panen petani. (SU/Wira)