» Info Teknologi » Porang, Komoditas Lokal Kaya Manfaat Yang Diminati Pasar Mancanegara
15 Apr 2019

Indonesia adalah Negara yang memiliki banyak ragam umbi-umbian. Salah satu umbi yang diminati pasar luar negeri adalah Umbi Porang. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melepas ekspor Porang senilai Rp 708,45 juta ke Vietnam. Selain Vietnam, Porang juga diminati di Negara lain seperti Jepang, Cina, Australia, dan lain-lain pada hari Selasa, (09/4/2019).

Badan Karantina Pertanian menyebutkan, ekspor Porang tercatat tahun 2018 sebanyak 254 ton, dengan nilai ekspornya mencapai Rp 11,31 miliar. Membidik pasar ekspor, Mentan memberikan phytosanitary certificate kepada para eksportir sebagai jaminan kesehatan komoditas pertanian dari pemerintah Indonesia.

"Umbi yang banyak ditemukan di hutan ini beracun, tapi dengan pengolahan yang tepat, umbi tersebut bisa dijadikan aneka bahan pangan,” Ujar Amran Sulaiman di GOR Andi Mappe, Pangkep, Sulawesi Selatan.

Umbi hutan dengan nama latin Amorphopallus oncophillus ini oleh sebagian masyarakat bisa dimanfaatkan sebagai sumber pangan lokal. Masyarakat setempat menyebut umbi hutan ini dengan "Siapa". Umbi Porang tersebut bukan merupakan hasil budidaya, namun merupakan umbi dari hutan.

Tanaman ini adalah tanaman daerah tropis yang termasuk family iles-iles, yang dikenal juga merupakan family bunga bangkai. Tanaman ini merupakan tanaman under utilized karena mempunyai umbi dengan kandungan Glucomanan cukup tinggi.

Glukomanan banyak digunakan dalam industri obat, makanan dan minuman, kosmetika, bahan perekat/lem, minuman penyegar, pertambangan, bahan dasar industri perfilman, industry pesawat terbang, industry textile, dan lain-lain. Bahkan, di Jepang digunakan sebagai bahan baku pembuatan makanan Jepang seperti untuk pembuatan Konyaku dan Shirataki.

Selain itu umbi porang juga memiliki mineral tinggi yang penting bagi metabolisme yaitu kalium, magnesium, dan fosfor serta unsur kelumit seperti selenium, seng, dan tembaga. Umbi porang bisa dibuat chips, chip setelah dimurnikan jadi tepung dibuat beraneka makanan, antara lain mie, tahu dan beras tiruan rendah kalori. Selanjutnya, porang dapat diolah menjadi keripik dan tepung glukomanan.

Di Indonesia tanaman Porang dikenal dengan banyak nama tergantung pada daerah asalnya. Misalnya di Sunda, Porang dikenal dengan nama Acung, sedangkan di Nganjuk dikenal dengan sebutan Kajrong.

Tanaman porang pada umumnya dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja pada ketinggian 0 -700M dpl. Tanaman ini sebaiknya ditanam pada tanah yang gembur dan tidak tergenang, dengan drajat keasaman tanah yang ideal adalah antara PH 6 - 7.

Porang mempunyai toleransi tinggi terhadap naungan atau tempat teduh dan hanya membutuhkan cahaya maksimum hanya sampai 40%. Tingkat kerapatan naungan minimal 40% sehingga semakin rapat semakin baik.

Perkembangbiakan tanaman porang dapat dilakukan dengan cara generatif maupun vegetatif. Secara umum perkembangbiakan tanaman porang dapat dilakukan melalui berbagai cara yaitu perkembangbiakan dengan Katak (alat perkembangbiakan tanaman borang), perkembangbiakan dengan biji atau buah, dan perkembangbiakan dengan umbi.

Sentra pengolahan tepung porang sudah berkembang di Pasuruan dan Madiun (Jawa Timur), Wonogiri (Jawa Tengah), serta Bandung (Jawa Barat). Sampai sekarang, salah satu permasalahannya terletak pada penyediaan bahan baku. Pasar untuk produk olahan tujuan ekspor sangat berpotensi dan terbuka luas.

Hingga saat ini, orientasi pemasaran porang masih diarahkan sebagai komoditas ekspor. Melihat manfaat yang sangat besar dari komoditas ini, sebaiknya pasar dalam negeripun mulai dibidik dengan serius. Apabila pasar dalam negeri sudah berkembang, sebaiknya Porang digarap dengan sungguh-sungguh selayaknya industri makanan dari hulu sampai ke hilir mampu berperan penting dalam peningkatan kesejahteraan petani. (EPA)