» Info Teknologi » TRIBAS, Biopestisida Baru untuk Pengendalian Berbagai Penyakit Tanaman Jagung
16 Apr 2019

Serangan hama dan patogen penyebab penyakit atau sering disebut organisme pengganggu tanaman (OPT) adalah hambatan bagi pelaku usahatani tanaman pangan. Dampak akibat serangan hama dan penyakit tersebut mengakibatkan terjadinya kehilangan hasil panen dan menurunkan kualitas hasil. Aplikasi pestisida umumnya dilakukan petani guna mengendalikan hama dan penyakit tersebut secara cepat,  namun pemberian pestisida kimia dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, resistensi terhadap hama dan penyakit, serta berkembang hama atau penyakit baru.

Sebelum mengenal pestisida kimia, penggunaan biopestida atau pestisida nabati sebenarnya sudah sejak lama dilakukan oleh petani.  Petani di Indonesia  umumnya membuat pestisida nabati sendiri, tidak membeli di toko pertanian, dan bahan-bahan yang digunakan umumnya tersedia di lingkungan sekitar.  Namun demikian khasiat atau efektivitas masing-masing ekstrak dari bahan nabati tersebut masih kurang dipahami oleh petani terutama efektifitasnya dalam menghambat perkembangan atau mematikan hama atau penyakit. 

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitsereal) telah mengembangkan formula Biopestisida baru berbahan aktif Bacillus subtilis yang diberi nama TRIBAS. TRIBAS sangat efektif dalam mengendalikan berbagai jenis penyakit tanaman, khususnya yang barasal dari cendawan patogen. Keunggulan dari formulasi ini adalah bersifat PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) sehingga sekaligus dapat memacu pertumbuhan tanaman. Hasilnya akan lebih optimal apabila penggunaannya dipadukan dengan varietas yang tahan.

Biopestisida ini adalah bakteri Bacillus subtilis yang umum ditemukan di tanah dan sisa-sisa tanaman. Jika diaplikasikan pada benih, bakteri ini mengkolonisasi sistem perakaran tanaman, sehingga dapat berkompetisi dan menekan perkembangan berbagai penyakit tanaman. Bakteri ini terus menerus hidup dan berkembang pada sistem perakaran tanaman dan dapat melindungi tanaman sepanjang musim pertanaman.

Patogen sasaran dari produk biopestisida ini adalah cendawan tular tanah, cendawan tular angin, dan cendawan tular benih. Efektif mengendalikan penyakit hawar pelepah dan upuh daun Rhizoctonia solani, penyakit hawar daun Bipolaris maydis, penyakit bulai Peronosclerospora philipinensis. Formula biopestisida ini menghasilkan senyawa metabolit sekunder yang bersifat antibiotik antifungal tinggi yaitu: basilomisin, mikobasilin, zwittermisin-A, kanosamin, dan fungistatin.

Adapun cara mengaplikasikan biopestisida ini yaitu perlakuan benih campurkan 8 gram Tribas per kilogram benih dan untuk penyemprotan dengan melarutkan formula 3 g/l air (tambahkan bahan perekat) kocok hingga homogen sebelum aplikasi. Sebaiknya diaplikasikan pada sore hari, dan diulangi seminggu kemudian. Pada cendawan yang bukan tular tanah sebaiknya tetap diberikan perlakuan benih sebelum tanam karena formula ini mampu merangsang pertumbuhan tanaman lebih baik. (Uje/RTPH)

Informasi lebih lanjut : Balitsereal