» Info Teknologi » Antisipasi Musim Kemarau dengan Varietas Tanaman Pangan Adaptif
08 Jul 2019

Akhir-akhir ini dampak perubahan iklim telah mengancam keberlanjutan produksi pertanian di berbagai belahan dunia. Dampak perubahan iklim yang dikhawatirkan adalah turunnya produksi pertanian, terutama tanaman pangan. Di Indonesia, padi, jagung dan kedelai memegang peranan penting sebagai bahan pangan yang diperlukan oleh lebih dari 269 juta penduduk.

Berdasarkan  hasil pemantauan curah hujan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) beberapa waktu kedepan wilayah di Indonesia berpotensi kekeringan dengan status SIAGA hingga AWAS. Sebagian besar wilayah Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara diperkirakan tidak akan mengalami hujan lebih dari 30 hari. Disebutkan bahwa wilayah yang masuk kategori status AWAS adalah Sebagian besar Yogyakarta, Jawa Timur (Sampang dan Malang), Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat (Indramayu), dan Bali (Buleleng). Sedangkan wilayah yang masuk status SIAGA Jakarta Utara, Banten (Lebak dan Tangerang), Nusa Tenggara Barat, dan sebagian besar Jawa Tengah. Dengan demikian akan terdapat + 100 Kabupaten/Kota yang terdampak kekeringan pada MK 2019 dengan total 102.654 Ha dan Puso 9.940 Ha (Ditlin, 4 Juli 2019).

Iklim di Indonesia berbeda dengan negara lain karena musim kemarau dampak dari perubahan iklim bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Diprediksikan beberapa daerah masih berpeluang mendapatkan curah hujan, namun curah hujannya berada pada kategori Rendah. Menghadapi perubahan iklim tersebut bagi Badan Litbang Pertanian bukanlah hal yang asing karena berbagai penelitian untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim telah dihasilkan. Salah satunya adalah dengan dilepasnya varietas unggul padi, jagung, dan kedelai yang toleran terhadap kekeringan.

Untuk padi ada 19 varietas padi yang telah teruji toleransinya terhadap kekeringan dengan kategori untuk lahan sawah dan lahan tadah hujan. Untuk lahan sawah ada 11 varietas padi yaitu varietas Inpari 10, Inpari 13, Inpari 18, Inpari 20, Inpari 38, Inpari 39, Inpari 41 dan Situbagendit ditambah tiga varietas padi dengan umur genjah < 105 HSS yaitu Inpari 19, Padjadjaran Agritan dan Cakrabuana Agritan. Untuk padi tadah hujan ada 9 varietas padi yaitu  padi Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, Inpago 8, Inpago 9, Inpago10, Inpago Lipigo 4 dan Inpago 12.

Untuk  jagung ada 10 varietas yang toleran terhadap kekeringan yang direkomendasikan untuk ditanam pada musim kemarau. Varietas jagung hibrida yang direkomendasikan terdiri dari varietas Bima 3, Bima 7, Bima 8, Bima 14, Bima 19 URI dan Bima 20 URI. Sedangkan untuk jagung komposit petani dapat menggunakan varietas Lamuru, Gumarang, Sukmaraga,  dan Bisma.  

Varietas kedelai toleran terhadap kekeringan yang dilepas tidaklah sebanyak padi dan jagung. Baru ada 5 varietas yang telah dilepas yaitu varietas Dering 1, Dering 2, Dering 3, Detam 3 Prida dan Detam 4 Prida yang toleran terhadap kekeringan. Untuk varietas Dering 2 dan Dering 3 adalah varietas yang baru dilepas pada bulan Juni 2019. Adapun kelebihan kedua varietas tersebut adalah berumur genjah dan berbiji lebih besar dari varietas Dering 1.